Home > Berita > Umum

Kanji Rumbi, Sajian Berbuka yang Semakin Kental di Bireuen

Kanji Rumbi, Sajian Berbuka yang Semakin Kental di Bireuen
Warga Gampong Rhem Timu, Simpang Mamplam, Bireuen mengambil sajian Kanji Rumbi setelah dimasak, di meunasah gampong setempat, foto direkam, Kamis (1/6/2017). [Joniful Bahri]
Jum'at, 02 Juni 2017 14:31 WIB
Penulis: Joniful Bahri

BIREUEN - Sajian dan memasak kanji rumbi yang menjadi tradisi saat berbuka puasa di bulan Ramadan, kini hanya bisa dijumpai ditempat tertentu, terutama di pedalaman gampong-gampong wilayah barat Kabupaten Bireuen.

Selain penganan lain, kanji rumbi selalu menjadi hidangan utama bagi masyarakat saat berbuka, baik di rumah, meunasah maupun di masjid-masjid.
 
Selama ini, tradisi memasak kanji rumbi dilakukan secara bergotong royong. Bahan-bahan yang diperlukan juga dikumpulkan bersama-sama oleh petua gampong dari rumah ke rumah. 
 
Adonan kanji ini tak hanya terbuat dari campuran rempah-rempah, beras dan sayur sayuran. Kanji rumbi juga sering disajikan dan dibumbui udang atau daging ayam maupun daging kambing
 
Setelah mencicipi, maka kelezatan kanji rumbi sangat kentara rasanya. Kasiatnya juga dipercaya dan berkhasiat sebagai obat ampuh bila masuk angin," kata seorang peutua gampong di Peulimbang, Adnan kepada GoAceh, Jumat (2/6/2017).
 
Paling tidak, tambahnya setiap hari ada lima hingga tujuh kepala keluarga yang tetap turut andil untuk menyumbang berbagai bahan untuk meramu sajian kanji rumbi di meunasah.
 
Umumnya, untuk sekali masak menghabiskan dana mulai Rp500 hingga Rp 800 ribu. Dana tersebut diperoleh dari para donatur gampong setempat yang telah disiapkan membantu terlaksananya kegiatan untuk memasak kanji rumbi.
 
Di kawasan Samalanga, Simpang Mamplam, Peulimbang, Pandarah dan Jeunieb, tradisi berbuka puasa dengan kanji rumbi masih cukup kental seperti di Keudee Aceh, Pante Rheng, Sansoe serta sejumlah gampong lainnya di perbatasan Bireuen dan Pidie Jaya ini.
 
Seorang juru masak kanji rumbi di Keude Aceh Samalanga, M Ali didampingi warga lainnya kepada GoAceh mengatakan, penganan khas berbuka puasa kanji rumbi bagi warga Samalanga sudah jadi tradisi turun temurun setiap Ramadan.
 
"Pekerjaan memasak kanji rumbi setiap hari dibulan Ramadan merupakan rangkaian ibadah, dilakukan seorang ahli masak tanpa dipungut biaya,” katanya.
 
Diakuinya, menjelang berbuka, setiap warga membawa rantang guna mengambil sendiri kanji rumbi di meunasah, untuk dibawa pulang sebagai penganan berbuka puasa bersama keluarganya.
 
"Kanji rumbi yang dimasak, tetap cukup untuk warga sekampung. Kegiatan ini akan memberikan nilai kebersamaan, juga hikmah dari bulan Ramadan, bulan penuh berkah bagi orang-orang yang melaksanakan puasa dengan ikhlas serta suka bersedekah," ujar seorang tokoh masyarakat Rhem Timu, Simpang Mamplam lainnya.
 
Tak hanya di kawasan barat Kabupaten Bireuen, tradisi memasak kanji rumbi juga mulai tertular hingga ke wilayah Kecamatan Kota Juang, seperti di Meunasah Blang, Pulo Ara dan kawasan Geulanggang.
Editor:Kamal Usandi
Kategori:Umum, Bireuen
wwwwww