Sosok

Yenni Mutia, Mahasiswi Cantik dari Sawang yang Suka Beramal

Yenni Mutia, Mahasiswi Cantik dari Sawang yang Suka Beramal
Yenni Mutia Husen
Kamis, 01 Juni 2017 09:04 WIB
BANDA ACEH - "Sesungguhnya banyak sekali amal kebaikan di dunia ini, akan tetapi hanya sedikit yang mau mengamalkannya." Kutipan kata mutiara tersebut masih mengakar kuat di dalam jiwa Yenni Mutia Husen, mahasiswi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, UIN Ar-raniry, Banda Aceh.
Semuanya bermula dari mimpinya ketika kecil yang terbilang cukup sederhana. Dia ingin menjadi seorang hafidzah dan bermanfaat bagi umat dan lingkungan sekitar. Kepribadiannya yang terampil dan jiwanya begitu mengakar membuat cita mulianya sejak kecil terkabul sehingga dapat diwujudkan dengan menunjangnya berbagai prestasi, baik akademik dan nonakademik.
 
Ya, inilah sebuah cita-cita dan prestasi mulia nan berkah dari seorang mahasiswi kelahiran Blanggeulinggang, Sawang, Aceh Selatan, 16 April 1995 ini. Selain fokus pada menyelesaikan program studinya sebagai mahasiswi, Yenni juga aktif di berbagai lembaga dunia Islam; intra dan ekstra kampus di Banda Aceh.
 
Di antaranya: LDF Mushalla Azh-Zhilal, IQTA, QAF UIN Ar-Raniry, Forum Ukhuwah Aceh Selatan, Pemuda Dewan Dakwah Aceh, Komunitas Aneuk Sholeh, Forum Barsela Menulis, dan lainnya.
 
Yenni merupakan mahasiswi yang begitu aktif di kampusnya. Banyak mahasiswa UIN Ar-raniry, khususnya Fakultas Ushuluddin yang mengenalinya. Selain terkenal cerdas dan aktif di jurusannya, dia juga sosok yang multi talenta, ramah, bersahaja, santun dan komunikatif. Dia salah satu mahasiswi berprestasi dengan IPK 3,85 dan sering memenangi berbagai ajang perlombaan di kampusnya.
 
Seiring memiliki berbagai bakat, prestasi dan predikat di kampusnya, tak membuat Yenni besar kepala. Sekalipun Ia seorang hafidzah, Ia juga rajin menjaga hafalannya setiap hari. Dia juga seorang pegiat yang aktif menulis di blog dan juga memiliki usaha busana islami bernama "Dek Yen Fashion."
 
Yenni tak hanya ingin menjadi sosok yang hanya menggantungkan mimpi dan cita-citanya setinggi bintang di langit tanpa pengharapan. Yenni selalu berusaha mewujudkan semua harapannya dengan cara berkarya melalui tulisan dan menjadi pegiat yang aktif menulis di Forum Barsela Menulis.
 
Dia merupakan sosok yang inspiratif, berbakat dan penuh karya. Semua itu terbaca dalam setiap untaian goresan tinta di blog pribadinya. Tulisannya begitu menginspirasi bagi yang membacanya.
 
Selain memiliki usaha sendiri, karya sendiri serta bakat dan prestasi untuk diri sendiri, Yenni merupakan sosok pribadi yang suka beramal dan berjiwa sosial. Ia tidak lupa dengan kondisi masyarakat sekitar. Ibadahnya dia habiskan sebagai hafidzah dan guru mengaji di TPA-TPA, sedangkan jiwa sosialnya dibangun dengan keaktifan di berbagai organisasi dakwah dan sosial masyarakat.
 
Statusnya sebagai mahasiswi membuat Ia tak gentar dengan tekad dan cita-cita membawa perubahan sosial kepada masyarakat. Setelah sekian lama berproses, Ia tak pernah berhenti untuk terus berkarya.
 
Melalui gerakan Komunitas Aneuk Sholeh misalnya, Yenni berupaya berkontribusi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Melalui program penyaluran bantuan nasi kotak dan sembako kepada anak yatim dan fakir miskin di panti asuhan dan rumah warga.
 
Menurutnya menjadi mahasiswa bukan hanya terlibat dengan berbagai masalah yang dihadapi tetapi juga harus mampu memberi solusi bagi lingkungan sekitar. “Menjadi mahasiswa bukan hanya sekadar berani bernarasi atau terampil berbicara, tetapi juga harus berani beraksi secara nyata kepada masyarakat sekitar,” tambahnya dengan penuh semangat.
 
“Dari kecil saya selalu ingin merasakan bagaimana anak yatim dan fakir miskin diperlakukan sama dengan yang lainnya. Sejak kecil saya juga yatim dan telah ditinggal oleh Ayah (almarhum). Tapi sebagai mahasiswi kita tetap harus kuat dan tabah. Peran kita sekarang adalah aktif dalam memberikan donasi dan bantuan bagi mereka yang membutuhkan. Apalagi sekarang bulan Ramadhan. Allah Swt akan melipatgandakan pahala dan amalan kita,” ujarnya.
 
Perjalanannya selama kurang lebih tiga tahun menjadi mahasiswa UIN Ar-raniry, telah memberi pembelajaran dan pengalaman yang tak ternilai harganya. Sungguh mulia hati dan agung jiwanya ketika meninggalkan satu catatan penting paling berkesan yaitu prestasi baginya bukanlah sebuah tujuan akhir dari sebuah perjuangan dan perjalanan, tetapi proses perubahan dan kontribusi kepada sesama merupakan sebuah pengabdian yang tak ternilai harganya.
 
Berkarya dengan sepenuh hati tidak hanya membuatnya terbang dengan segala prestasi. Menurutnya berkarya itu bukan hanya sekadar unjuk prestasi untuk diri sendiri tetapi tujuannya adalah untuk berkontribusi dan berkarya bagi sesama.
 
Baginya prestasi itu tidak dapat diukur dan dilihat dari piala, plakat atau piagam penghargaan, itu hanya merupakan bagian terkecil. Ada banyak yang tidak dapat dilihat dan dirasakan seseorang di balik itu semua.
 
“Bagi saya prestasi dan penghargaan tertinggi itu bukan dilihat dari juara, piala ataupun piagam penghargaan yang kita dapatkan. Tapi prestasi tertinggi itu ketika penghargaan itu datang dari masyarakat sebagai respon positif (doa) atas apa yang telah kita bantu dan berikan."
 
"Hingga dengan doa mereka, apalagi sekarang bulan suci Ramadhan. kita mendapatkan sebuah pahala berlipat ganda, keberkahan dari langit dalam meraih keberhasilan hidup dan kesuksesan dalam karir/prestasi dan juga rezeki, itu merupakan penghargaan tertinggi yang tak ternilai harganya," anak bungsu dari lima bersaudara itu.
Ads
Editor:Kamal Usandi
Kategori:Banda Aceh, Aceh Selatan, Pendidikan
wwwwww