Permintaan Kain Bordir Meningkat Selama Ramadan

Permintaan Kain Bordir Meningkat Selama Ramadan
Pengrajin bordir di Gampong Blang Cut, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Rabu (31/5/2017). [Sarina]
Kamis, 01 Juni 2017 01:05 WIB
Penulis: Sarina

LHOKSEUMAWE – Selama bulan Ramadan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1438 H, permintaan suvenir kain bordir di Gampong Blang Cut, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe mulai meningkat. Orderan berasal dari sejumlah pelanggan yang ada di dalam dan luar daerah.

Salah seorang pengrajn suvenir kain bordir di gampong tersebut, Nuraini kepada GoAceh mengatakan, dirinya sudah melakoni pekerjaan itu sejak 27 tahun yang lalu.

Baca: Istri Wiranto Minati Kerajinan Tangan Aceh

loading...
Adapun motif yang dibordir bermacam-macam, seperti Pucok Reubong, Pintoe Aceh, Jeumpa, Seulanga dan bentuk lainnya.

Ads
“Yang kami bordir biasanya mukenah, sarung, jilbab dan baju. Motifnya bisa apa saja, namun yang paling banyak diminati yaitu jenis Pucok Reubong. Apalagi dalam bulan puasa dan menjelang lebaran, permintaan dari pelanggan sekarang sangat meningkat,” kata Nuraini, Rabu (31/5/2017).

Lanjutnya, untuk harga berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per set.

Bahan yang dipakai jenis epita karena kainnya lebih tahan, sedangkan untuk mukenah digunakan kain jenis skibo, soalnya lebih lembut dan nyaman dipakai.

“Dalam sebulan biasanya kami melakukan empat kali pengiriman barang ke daerah Kota Lhokseumawe, Banda Aceh, hingga ke negeri jiran Malaysia. Sempat juga kami mengikuti pameran suvenir di Jakarta beberapa tahun lalu,” ungkapnya.

Nuraini mengaku, sekali pengiriman barang mencapai hingga 30 potong baju.

Baca: Tas Bordir Aceh Tembus Pasar Amerika dan Eropa

Dalam menjalankan usahanya, Ia dibantu 40 orang karyawan, dengan masing-masing pekerja digaji Rp700 ribu hingga Rp1 juta per bulannya.

“Dalam sebulan kami bisa menghasilkan hingga 50 set hasil bordiran,” terangnya.

Ia juga berharap, Pemerintah Kota Lhokseumawe mau memberikan bantuan berupa modal usaha karena pihaknya masih kekurangan mesin jahit.

Nuraini saat ini hanya memiliki 8 buah mesin bordir dan beberapa mesin jahit biasa.

“Mudah-mudahan Pemko Lhokseumawe mau memperhatikan usaha kecil ini,” harapnya.

Baca: Suvenir Syirkatunnisa, dari Nisam ke Pasar Amerika dan Eropa

Editor:Yudi
Kategori:Ekonomi, Lhokseumawe
wwwwww