Tradisi Ramadan, Boh Timon Wah Banjiri Kota Idi

Tradisi Ramadan, Boh Timon Wah Banjiri Kota Idi
Para penggilas di Kota Idi saat memuat Timur Suri untuk di jual lagi ke kota lainnya. [Ilyas Ismail]
Sabtu, 27 Mei 2017 14:18 WIB
Penulis: Ilyas Ismail

IDI - Sejak puluhan tahun silam hingga sekarang, memanen Boh Timon Wah (Timun Suri) saat Ramadan, sudah menjadi tradisi masyarakat gampong dan beberapa daerah pedalaman di Aceh Timur. Tak heran, keberadaan timun suri setiap bulan puasa selalu membanjiri Kota Idi Rayeuk. 

Pantauan GoAceh, Sabtu (27/5/2017) siang, selain terlihat ramainya pedagang sayur musiman di seputran ruas jalan dua lajur Kota Idi, puluhan sepeda motor dengan keranjang berisi timun suri berjejer menjajakan buah tersebut kepada masyarakat yang lalu-lalang.

Baca: Lapak Dagangan Takjil Ramadan di Subulussalam Mulai Sepi

loading...
Bahkan ada juga para Muge (penggilas) dari luar Kota Idi, datang membeli Timun Suri untuk  dijual di wilayah lainnya atau hingga ke luar Aceh Timur.

Seperti halnya Marzuki (40) atau sering disapa Pak Mek warga Gampong Blang Baloh Kecamatan Peureulak, Aceh Timur.

Ia dengan menggunakan sepeda motor dan dua keranjang di belakangnya, membeli timun suri dari agen pengumpul di seputaran Kota Idi.

“Karena hari ini pertama puasa, jadi harga timun suri di tingkat agen sedikit tinggi, sekitar Rp10 ribu per buah,” kata Pak Mek.

Dua keranjang besar di belakang sepeda motor Pak Mek, terlihat terisi puluhan timun suri dalam ukuran yang bervariasi.

Kata Pak Mek, Timun Suri yang dibelinya itu diangkut ke Kota Langsa untuk dijual lagi.

“Nyoe keuh buet dalam buluen Ramadan, glah keu bajei aneuk miet uroe raya, (inilah pekerjaan saya hari-hari saat bulan Ramadan, setidaknya cukup untuk biaya baju lebaran anak-anak),” kata Pak Mek dalam bahasa Aceh.

Timun Suri yang diketahui kaya khasiat dan mamfaat untuk kesehatan itu, setiap bulan Ramadan telah menjadi penghasilan tambahan bagi masyarakat beberapa gampong di pedalaman Kecamatan Idi Rayeuk, seperti Gampong Buket Linteng, Gampong Sampoemah dan Gampong Buket Jok.

Hampir setiap rumah di daerah itu, masyarakatnya memanfaatkan lahan pekarangan, kebun dan lahan terlantar untuk menanam timun suri sebulan sebelum puasa.

Menurut petani timun suri, Mukhlis (30) warga Gampong Buket Linteung, buah tersebut ditanam lebih kurang 52 hari sebelum Ramadan dan akan dipanen mulai 1 hingga 15 puasa.

Baca: Timun Suri asal Aceh Timur dan Tamiang Banjiri Langsa

“Kami mengenal cara bercocok tanam Timun Suri ini sejak masih kanak-kanak dulu. Setiap 50 hari sebelum masuk bulan Ramadan masyarakat di daerah ini sudah mulai menanam boh timon wah (dengan masa panen selama 52 hari,” papar Mukhlis.

Ia mengungkapkan, setiap satu rante (400 M2) petani dapat memanen per harinya sekitar 30 buah timun suri.

“Saya sendiri tahun ini menanam di areal seluas 3 rante, setiap harinya bisa panen sebanyak 70 buah timun suri,” sebut Mukhlis.

Lanjutnya, timun suri yang dijual kepada para pedagang atau penggilas yang langsung datang ke kebun dengan harga Rp 5.000  hingga Rp 8.000 per buah.

“Setiap petani yang menanam di lahan seluas 3 hektare akan memperoleh keuntungan sekirtar Rp3,5 juta hingga Rp 4 juta. Cukuplah untuk beli baju lebaran anak-anak,” tandas Mukhlis.

Baca: Ditabrak Penjual Timun Suri, Ramli Meninggal 

Editor:Yudi
Kategori:Ekonomi, Aceh Timur
wwwwww