Home > Berita > Umum

Tanaman Karet Milik Warga Mati Diterjang Lumpur CPP Blok A

Tanaman Karet Milik Warga Mati Diterjang Lumpur CPP Blok A
Kebun karet milik Khairil Anwar (39) yang terkena lumpur pembuangan CPP Blok A di Gampong Blang Nisam, Kecamatan Indra Makmur, Aceh Timur. [Ist]
Selasa, 23 Mei 2017 16:16 WIB
Penulis: Ilyas Ismail

IDI - Lumpur pembuangan dari saluran lokasi pembangunan Central Processing Plant (CPP) Blok A di Gampong Blang Nisam, Kecamatan Indra Makmur, Aceh Timur , diduga telah menghancurkan puluhan hektare kebun warga. Bahkan, ratusan batang pohon karet mati akibat “siraman” lumpur buangan tersebut.

“Selama setahun ini, akibat lumpur pembuangan tersebut, 720 pohon karet di kebun milik saya mati. Tanaman kopi dan kayu sentang juga ikut mati,” kata salah seorang warga Gampong Keude Aluei Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmur, Khairil Anwar (39) kepada GoAceh, Selasa (23/5/2017).

Menurutnya, PT Medco E&P Malaka, sebagai perusahaan pengelola CPP Blok A, diduga sengaja membuat gorong-gorong pembuangan limbah ke lahan miliknya, tanpa ada kesepakatan dan uang ganti rugi.

loading...
Baca: PDAM Tirta Keumuning Suplai "Lumpur" kepada Konsumen

“Akibatnya, terjadi genangan lumpur yang menyebabkan  tanaman di kebun kami mati total, termasuk pohon karet yang telah berusia belasan tahun,” papar Khairil.

Lanjutnya, pihaknya telah melakukan protes, namun sampai saat ini belum ada niat baik pihak perusahaan terhadap persolan yang telah merugikan masyarakat tersebut.

“Kami minta pihak perusahaan untuk peduli terhadap masalah yang kami hadapi. Masyarakat telah dirugikan dengan adanya limbah lumpur tersebut. Jadi kami ingin tanah yang tercemar dan pohon yang mati, segera diberi ganti rugi,” tegasnya.

Ia juga menyesalkan pihak perusahaan yang seenaknya membuat gorong-gorong  yang air (lumpurnya)  mengaliri ke tanah warga.

“Jika ingin digunakan sebagai tempat pembuangan lumpur atau limbah, terlebih dahulu tanah kami dan isinya harus dibebaskan terlebih dahulu,” kata Khairil.

Sementara itu, Public Affair PT Medco, Akhyar kepada GoAceh mengatakan, keselamatan masyarakat, lingkungan dan pekerja adalah prioritas utama bagi perusahaan.

Ia mengungkapkan, menindaklanjuti permasalahan terkait gorong-gorong tersebut dan tanaman mati yang diklaim oleh warga (Khairil) akibat aktifitas di CPP, hal ini telah dilakukan dua kali kunjungan langsung ke lapangan disaksikan oleh Keuchik Blang Nisam.

Menurutnya, proses klaim ini sudah dalam proses penyelesaian, namun saat akan dilakukan verifikasi lanjutan untuk mengetahui umur tanaman oleh tim ahli, pemilik tanah  tidak bersedia sehingga proses penyelesaian berhenti dan tidak dapat dilanjutkan.

“Kami dari pihak perusahaan berharap hal ini dapat segera diselesaikan dengan tidak saling merugikan dan mengikuti aturan yang berlaku,” demikian Akhyar.

Baca: Warga Paya Bili Sa Keluhkan Jalan Berlumpur

Editor:Yudi
Kategori:Umum, Aceh Timur
wwwwww