Home > Berita > Umum

Perempuan Berperan Atasi Kerusakan Lingkungan Akibat Galian C

Perempuan Berperan Atasi Kerusakan Lingkungan Akibat Galian C
Palatihan panambangan pasir bertanggungjawab digelar di Hotel Royal, Idi, Aceh Timur, Selasa (23/5/2017). [Ilyas Ismail].
Selasa, 23 Mei 2017 21:54 WIB
Penulis: Ilyas Ismail
IDI- Tanggungjawab antisipasi kerusakan lingkungan akibat penambangan galian C juga harus diperankan oleh kaum ibu. Karena dampak kerusakan lingkungan juga sangat diarasakan kaum perempuan sebagai ibu rumah tangga.Hal itu dikatakan, Ketua LSM Balai Syura Ureung Inong Aceh, Kabupaten Aceh Timur, Khairul Husna Ahmad dalam acara pelatihan Shered Resoures Joint Solution (SRJS) Aceh, di Hotel Royal, Idi, Aceh Timur, Selasa (23/5/2017).

“Kenapa LSM Balai Syura Urueng Inong Aceh, ikut dalam koaliasi dengan pihak World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, Forum DAS Krueng Peusangan (FDKP) dalam rangka antisipasi kerusakan lingkungan akibat penambangan galian C, karena dampak kerusakan lingkungan juga dirasakan oleh kaum hawa, contohnya akibat kerusakan lingkungan akan tercemar debit air bersih,” kata Khairul Husna atau sering disapa Kak Nyanyak.

loading...
Pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari tersebut diiikuti oleh para keuchik di lokasi penambangan galian C dan sejumlah LSM dari  Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tamiang dan Kota Langsa, dan juga diwakili oleh ibu-ibu dari LSM.  

Ads
Di sela-sela acara pelatihan tersebut, panitia dan peserta juga dibawa ke lokasi bekas galian C, di Gampong Blang Gelum, Kecamatan Julok, Aceh Timur, guna melakukan penanaman pohon, di bekas lokasi penambangan galian C.

“Tujuan dari pelatihan tersebut, selain untuk meningkatkan kapasitas  Organisasi Masyarakat Madani atau disingkat dengan CSO, masyarakat dan kelompok perempuan tentang kebijakan penambagan pasir di Daerah Aliran Sungai (DAS), serta meningkatkan kapasitas CSO, masyarakat serta kelompok perempuan terkait kebijakan pelaporan tentang kerusakan lingkungan,” kata Kak Nyanyak.

Dijelaskan, pelatihan ini terbagi dua klaster. Untuk training pertama meliputi Kabupaten Bireun, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Utara, sedangkan klaster kedua meliputi, Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Tamiang.

“Selain banyak materi yang disampaikan dalam pelatihan tersebut terkait dengan tatacara penambangan pasir yang dapat menjaga lingkungan, juga disampaikan materi teknik pelaporan terkait pelanggaran galian C, serta teknik penggunaan media massa dalam pelaporan aktivitas penambangan yang merusak lingkungan melalui Citizen Journalis,” demikian Khairul Husna.

Editor:Zuamar
Kategori:Umum, Aceh, Aceh Timur
wwwwww