Harga Beli Rp7.000, Petani Cabai Rawit di Aceh Utara Menjerit

Harga Beli Rp7.000, Petani Cabai Rawit di Aceh Utara Menjerit
Petani cabai rawit memetik hasil panennya di Gampong Meurak Dua, Kecamatan Kutamakmur, Kabupaten Aceh Utara. Sementara harga beli cabai jenis ini di tingkat petani anjlok, Selasa (16/5/2017). [Sarina]
Selasa, 16 Mei 2017 21:47 WIB
Penulis: Sarina
LHOKSUKON– Harga beli cabai rawit di tingkat petani di Kabupaten Aceh Utara, anjlok sejak beberapa waktu lalu. Sebelumnya, cabai rawit mencapai Rp 40 ribu perkilogram, tetapi saat ini hanya Rp 7 ribu per kilogram.
Seorang petani cabai rawit di Gampong Meurak Dua, Kecamatan Kutamakmur, Kabupaten Aceh Utara, Aisyah mengatakan, anjloknya harga beli cabai rawit ini sudah terjadi sejak sebulan terakhir. Turunnya harga ini berdampak pada penghasilan petani ketika tiba waktu panen.

“Sebelumnya harga cabai rawit Rp40 ribu dan selama satu bulan terakhir menjadi Rp 7 ribu. hal ini membuat kami para petani cabai sangat sedih dan terkadang menangis, ketika kami pasok ke penjual di pasar, mereka mengaku mengambil harga murah karena banyaknya hasil panen dari Kota Takengon,” katanya kepada GoAceh, Selasa (16/5/2017).

Aisyah mengatakan, sebelum harganya anjlok, dia mendapatkan hasil penujualan capai hingga Rp 900 ribu per sekali panen (10 hingga 15 hari). Sedangkan saat ini, dia hanya mendapat Rp40 ribu, belum dipotong upah pekerja.

Ads
“Lahan yang kami punya di sini sekitar satu sentengah hektare, untuk pembibitan kami buat sendiri dari hasil panen buah cabai sebelumnya. Untuk modal utama kemarin, sudah menghabiskan kurang lebih Rp20 juta. Dan ketika harganya mengalami anjlok seperti ini, untuk kebutuhan ekonomi keluarga saja tidak mencukupi, karena semata-mata pencarian kami di kebun cabai ini,” tuturnya.

Ibu dari satu anak itu pun berharap, pemerintah Kabupaten Aceh Utara dapat memberi sedikit perhatian kepada petani pedalaman kabupaten setempat. Karena, sebutnya, saat ini para petani cabai sedang menjerit.

”Kami berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi kami, terkadang ketika saya menjual cabai rawit ini sampai menangis karena mengingat harganya yang sangat murah,” pungkasnya.

Editor:Zuamar
Kategori:Aceh Utara, Ekonomi
wwwwww