Sidang Perdana, Saksi Beber Kisah Pemohon Suntik Mati

Sidang Perdana, Saksi Beber Kisah Pemohon Suntik Mati
Saksi Puspita Sari saat disumpah majelis hakim pada sidang perdana Euthanasia Berlin di PN Banda Aceh, Senin (15/5/2017). [Safdar S]
Senin, 15 Mei 2017 15:01 WIB
Penulis: Safdar

BANDA ACEH - Hari ini sidang perdana atas permohonan euthanasia (suntik mati) yang diajukan oleh eks pengungsi Barak Bakoy, Aceh Besar, Berlin Silalahi digelar di Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, Senin (15/5/2017).

Sidang dipimpin hakim tunggal Ngatimin ini beragendakan pada pemeriksaan saksi-saksi. Dua orang saksi dihadirkan oleh kuasa hukum pemohon yaitu Puspita Sari (45) dan Nurhabibah (54). Keduanya merupakan tetangga pemohon saat di barak pengungsian Barak Bakoy.
 
Tim kuasa hukum pemohon dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) yang terdiri dari Safaruddin, Sulaiman, Mila Kusuma dan Yusi Maharmina membacakan alasan pemohon untuk mengajukan suntik mati. Dalam pembacaan alasan tersebut mengatakan, pemohon adalah korban tsunami, sebelum sakit pemohon adalah seorang mekanik atau montir.
 
Namun pada 2012, kondisi kesehatan pemohon yang berasal dari Meulaboh, Aceh Barat ini memburuk hingga lumpuh. Oleh karena penyakitnya itu, pemohon tidak dapat melakukan aktivitas untuk menafkahi kedua anak dan istrinya.
 
Sebelum tinggal di barak Bakoy, pemohon juga tinggal di barak pengungsian Gampong Labuy dan termasuk ke dalam salah satu penerima hak rumah di lokasi Labuy.
 
Namun penerimaan hak tersebut tidak juga terealisasi hingga pemohon dipindahkan ke barak Bakoy. Mirisnya, ketika barak Bakoy dibongkar, pemohon yang sudah mengidap penyakit kronis ini tidak lagi memiliki tempat tinggal. 
 
Oleh karena itu pemohon merasa tertekan  secara fisik dan psikologis sehingga mengajukan permohonan euthanasia (suntik mati).
 
"Untuk itu kami berharap agar majelis hakim mengabulkan semua permohonan pemohon dan menetapkan izin euthanasia kepada pemohon," ucap Yusi Maharmina saat membacakan alasan pemohon.
 
Dalam kesaksiannya, Puspita Sari menyatakan bahwa pemohon bernama Berlin Silalahi merupakan korban tsunami Aceh.
 
"Saya kenal sama pemohon dan keluarganya sejak tinggal di Barak Bakoy, korban mengalami sakit parah dan tidak dapat beraktivitas sendiri, sehingga tidak mampu untuk menafkahi keluarganya," ujar saksi saat diperiksa hakim.
 
Sementara dalam kesaksiannya saksi juga mengatakan, keadaan bertambah buruk ketika Pemerintah Kabupaten Aceh Besar membongkar barak tersebut karena tidak memiliki tempat tinggal lain, akhirnya merasa putus asa.
 
"Pada 31 Desember 2017 petugas dari Pemkab Aceh Besar menempelkan surat pemberitahuan untuk mengosongkan barak, karena tidak memiliki tempat tinggal kami 18 KK di sana tidak tau harus pindah ke mana, sehingga pada saat dilakukan pembongkaran kami menjadi kehilangan tempat tinggal," tambahnya.
 
Sementara itu pada pemeriksaan saksi Nurhabibah, wanita kelahiran 1963 ini mengatakan, pemohon pernah berobat hingga ke Lhokseumawe, rumah sakit Meuraksa Banda Aceh dan RSUD Zainoel Abidin dan diopname.
 
"Selama sakit, kami tetangga membantu untuk mencukupi kebutuhannya sendiri alakadar, istrinya tidak bekerja dan mengurusi suami dan anaknya, saat itu tidak ada bantuan apapun dari pemerintah," akunya.
 
Dijelaskannya bahwa penempatan mereka di pengungsian Barak Bakoy adalah keputusan dari Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh untuk sementara.
 
"Kami ditempatkan di Barak Bakoy oleh BRR hanya seminggu. Sebab saat itu katanya kami akan dikembalikan ke rumah bantuan yang disediakan di Labuy Kecamatan Krueng Raya, Aceh Besar. Namun ketika kami kembali ke rumah yang sudah dijanjikan itu, rumah tersebut sudah ditempati oleh orang lain," ungkapnya.
 
Setelah mendengar alasan pemohon dan kesaksian saksi, sidang ditutup dan akan digelar kembali pada Kamis (18/5/2017) dengan agenda pemeriksaan barang bukti yaitu penunjang diagnostik dari dokter.
 
Sementara itu kuasa hukum pemohon dari YARA, Safarudin mengatakan pihaknya akan berupaya menghadirkan saksi psikologi dalam persidangan selanjutnya.
 
 
 
 
 
Ads
Editor:Kamal Usandi
Kategori:Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat, Hukum
wwwwww