Perawatan Pekarangan Makam Sultan Malikussaleh Kurang Maksimal

Perawatan Pekarangan Makam Sultan Malikussaleh Kurang Maksimal
Pengurus makam Sultan Malikussaleh di Beuringen, Samudera, Aceh Utara, menyusun bebatuan di atas makam, Sabtu (13/5/2017). [Sarina]
Senin, 15 Mei 2017 10:03 WIB
Penulis: Sarina

LHOKSUKON – Makam Sultan Malikussaleh di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara terlihat luput dari perhatian pemerintah, terutama dari sisi perawatannya.

Sultan Malikussaleh, mempunyai nama asli Meurah Silue ini, merupakan raja pertama dari Kerajaan Islam Samudra Pasai. Ia lahir pada tahun 1270 dan wafat pada 1297. Malikussaleh merupakan seorang raja yang saleh dan rendah hati, berkat dari perjuangannya, agama Islam berkembang pesat di Aceh dan Malaka.

Pantauan GoAceh, Sabtu (13/5/2017), makam berusia 900 tahun tersebut terlihat seperti tidak terurus. Di sekelilinya pagar makam itu terlihat rumput dan ilalang. Selain itu, bangunannya sudah terlihat kusam, padahal makam tersebut sudah dikenal banyak orang.

loading...
Salah seorang pengurus makam Sultan Malikussaleh, M Yakub Ali (69) mengatakan, sejauh ini makam tersebut luput dari perhatian pemerintah. Padahal menurutnya, makam bersejarah itu patut untuk diperhatikan, karena para penziarah sendiri datang dari dalam dan luar negeri.

“Jumlah pengunjung paling ramai setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Pengunjungnya mencapai ribuan orang per hari. Kegiatan pengunjung seperti mengaji, shalat sunat, melepaskan nazar, dan juga sebagian sekadar melihat dari jarak dekat makam bersejarah itu,” katanya.

Di samping Makam Sultan Malikussaleh, terdapat makam Sultan Muhammad Malikul Dhahir (1297-1326) yang merupakan putra Malikussaleh pada masa kekuasaan Islam sedang berkembang pesat. Pada masa itu perdagangan internasional telah dijalaninya dan menggunakan mata uang emas bernama Dirham.

“Kalau penziarah yang menggunakan pakaian ketat atau tidak muslimah dan bagi nonmuslim kami melarang masuk ke dalam pagar ini. Tujuannya demi kebaikan untuk orang tersebut, supaya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena makam ini merupakan makam yang mulia,” lanjutnya.

Yakub berharap kepada Pemkab Aceh Utara, supaya memperhatikan kondisi makam bersejarah itu. Paling tidak menurutnya, pemerintah merenovasi kembali bangunan-bangunan yang sudah kusam dan rusak itu. Selain itu memperkerjakan lagi pengurus makam untuk membersihkan lokasi makam.

“Kami berharap, pemerintah setempat memperkerjakan sekitar dua orang lagi pengurus makam untuk membersihkan ilalang dan rumput-rumput yang ada di sekitaran makam ini,” harapnya.

Editor:Kamal Usandi
Kategori:Aceh Utara, Umum
wwwwww