WH: Hampir 70 Persen Pelaku Ikhtilath di Banda Aceh Anak Kos

WH: Hampir 70 Persen Pelaku Ikhtilath di Banda Aceh Anak Kos
Kasi Penyidikan dan Penindakan Satpol-PP dan WH Kota Banda Aceh, Evendi
Sabtu, 13 Mei 2017 08:16 WIB
Penulis: Safdar

BANDA ACEH - Angka pelanggaran syariat dari tahun 2016 sampai 2017 di Kota Banda Aceh menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya, namun pelaksanaan hukuman cambuknya terus meningkat.

Hal ini disampaikan Kabid Penyidikan dan Penindakan Satpol-PP dan Wilayatul Hisbah (WH) Kota Banda Aceh, Evendi kepada wartawan di Banda Aceh, Jumat (12/5/2017).
 
"Hal ini didasari oleh adanya keterlibatan masyarakat yang terus proaktif melakukan pengawasan pelanggaran syariat dengan kegiatan pageu gampong (pagar kampung)," tambahnya.
 
Menurutnya pelanggaran syariat pada 2015 ke bawah itu sangat banyak, namun saat itu masih jarang dilakukan penahanan dan hukuman, hanya sebatas pembinaan saja.
 
"Saat itu setiap pelanggar hanya dibina dan diserahkan kepada keluarga, namun sejak 2016 kita sudah gencar melakukan penahanan dan memberikan hukuman, sehingga efeknya pelanggaran itu semakin menurun," jelasnya.
 
Sementara itu lanjutnya, periode 2016 hingga 2017 kasus pelanggaran didominasi oleh kasus ikhtilath (bermesraan antara laki-laki dan perempuan) dan kebanyakan pelakunya adalah anak luar Banda Aceh tinggal di kos (indekos) di Kota Banda Aceh.
 
"Hampir 70 persen kasus ikhtilath itu dilakukan oleh mahasiswa yang ngekos di Banda Aceh, dan sangat banyak ditangkap oleh aparat gampong. Untuk menghindari terjadinya main hakim sendiri kami mengimbau kepada ketua pemuda, ketika ada kasus pelanggaran agar segera melaporkan ke WH atau Polsek setempat," imbaunya.
 
Lima Kasus akan Dieksekusi
Sementara itu, eksekusi hukuman cambuk akan dilaksanakan kepada lima pasang pelanggar syariat pada 23 Mei. Empat kasus ikhtilath dan satu kasus liwath (pasangan sesama jenis). 
 
"Empat kasus ikhtilath dan satu kasus liwath, namun untuk lokasi dilakukannya hukuman ini masih Kita sepakati, karena tempatnya kita gilir terus," tambahnya.
 
Menurutnya lokasi eksekusi hukuman cambuk ini selain dilakukan di masjid atau meunasah dapat dilakukan juga di lapangan terbuka jika sesuai dengan protap pengamanannya.
 
"Jika memungkinkan dan memenuhi protap yang ada, di lapangan bola juga dapat kita eksekusi, tujuannya sebagai sosialisasi kepada masyarakat," jelasnya.
Editor:Kamal Usandi
Kategori:Banda Aceh, Hukrim
wwwwww