Home > Berita > Umum
Penas KTNA XV 2017

KAMMI Aceh Sesalkan Aksi Penjarahan Tanaman

KAMMI Aceh Sesalkan Aksi Penjarahan Tanaman
Sejumlah tanaman di Penas KTNA yang terletak di belakang Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh dijarah oknum yang tidak bertanggungjawab.
Kamis, 11 Mei 2017 17:09 WIB
Penulis: Hafiz Erzansyah

BANDA ACEH - Sejak Penas KTNA 2017 berlangsung, banyak masyarakat yang hadir menyaksikan aneka hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan yang dipamerkan di setiap stan yang berada di depan Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh.

Selain pertunjukan di dalam stan, masyarakat juga bisa menikmati berbagai tanaman unggulan yang ditanam di belakang stadion di bagian kluster holtikultura dan tanaman pangan.

Misalnya saja tanaman padi, jagung, kedelai, bunga matahari, melon, semangka, pisang, cabai, bayam, kangkung, kurma,  jambu dan lainnya. Setiap yang hadir pasti merasa takjub dan betah berlama-lama di dalam kebun buatan tersebut. 

loading...
Namun sayangnya, keindahan kluster tersebut tidak bertahan lama. Berdasarkan berita yang tersebar, sejak Rabu (10/5/2017) sore hingga malam harinya, telah terjadi aksi penjarahan oleh sekelompok warga yang merampas setiap hasil tanaman tersebut.

Meski sudah dilarang pihak panitia, tetap saja aksi yang tidak terpuji ini dilakukan.

Menanggapi aksi tersebut, Ketua Umum PW KAMMI Aceh, Tuanku Muhammad, menyesalkan penjarahan yang dilakukan oleh segelintir oknum itu.

Menurutnya, seharusnya tanaman-tanaman itu tetap dijaga dan bisa dinikmati bersama, meskipun Penas KTNA sudah selesai dilaksanakan. 

"Sungguh sangat disayangkan jika tanaman yang sudah dipersiapkan sejak dua bulan lalu dengan menghabiskan dana rakyat Aceh hingga miliaran rupiah, dirusak dengan mudahnya," kata Tuanku kepada GoAceh, Kamis (11/5/2017). 

Menurutnya, sebagai provinsi yang sedang menunjukkan citra sebagai daerah aman, bersyariat dan berpendidikan, seharusnya didukung oleh seluruh masyarakat dengan tidak melakukan aksi penjarahan yang membuat Aceh malu di hadapan tamu lainnya dari seluruh Indonesia. 

"Aksi penjarahan ini tidak saja membuat kerusakan di kebun buatan Penas KTNA, tetapi juga membuat kita rakyat Aceh dicap masih primitif oleh tamu dari seluruh Indonesia. Apalagi mereka masih ada di Aceh dan belum pulang," tuturnya.

Tuanku menambahkan, jika kebun buatan itu tidak dirusak, ke depannya pemerintah Aceh ataupun pihak terkait lainnya bisa menjadikan tempat tersebut menjadi agrowisata yang bernilai ekonomis.

Masyarakat juga bisa belajar cara menanam tanaman yang baik serta dapat dijadikan wahana tamasya yang baru bagi warga Kota Banda Aceh, seperti Hutan Kota di kawasan Gampong Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.

"Kita mengharapkan agar aksi penjarahan seperti ini tidak ada lagi di Aceh. Mari kita menjaga setiap keindahan dan tidak mengambil sesuatu yang bukan milik kita," tandas Tuanku.

Editor:Yudi
Kategori:Umum, Aceh, Banda Aceh
wwwwww