Home >  Berita >  Aceh Utara

Mengaku Dianiaya Polisi, Warga Aceh Utara Mengadu ke YARA

Mengaku Dianiaya Polisi, Warga Aceh Utara Mengadu ke YARA
Ilustrasi
Rabu, 05 April 2017 15:20 WIB
Penulis: Safdar

BANDA ACEH - Seorang warga Gampong Tanjong Beurunyong, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, Nurdin AB, (40) melaporkan kasus penangkapan dirinya oleh sejumlah aparat kepolisian Aceh Utara, Kamis (23/03/17) silam kepada Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA)

Nurdin mengaku heran, dirinya tiba-tiba ditangkap tanpa disertai surat panggilan maupun surat perintah dari Kapolres Aceh Utara. Setelah ditangkap, Ia langsung dibawa ke mapolres setempat. "Nurdin mengatakan lahannya terkena pembangunan Waduk Kerto, Paya Bakong, Aceh Utara. Namun dia tidak mau menerima  ganti rugi atas harga yang dianggapnya murah yakni Rp6.000 per meter. Karena dijanjikan oleh pelaksana proyek mencapai Rp11.000 per meter," ujar Sekjen YARA, Fahrurrazi kepada wartawan, Selasa (4/4/2017) kemarin.

Setelah tiba di Mapolres Aceh Utara, katanya, Nurdin sempat mendapat pukulan di bagian kepala dan perutnya. Nurdin juga dipaksa untuk memegang senjata api, yang disodorkan oleh salah seorang oknum polisi sebagai upaya menakut-nakuti Nurdin agar menandatangani surat pernyataan, yang isinya ganti rugi lahannya yang terkena pembangunan waduk kerto dengan harga Rp6.000 per meter.

Karena tidak tahan disiksa, akhirnya Nurdin menandatangani pembayaran dengan harga Rp6.000 per meter, yang kemudian hanya diterima sebesar Rp5.000 per meter.

Ads
Sementara itu Ketua YARA Safaruddin menyesalkan pembebasan lahan pembangunan Waduk Kerto, Paya Bakong, Aceh Utara, menggunakan aparat kepolisian dengan menekan dan menyiksa warga.

"Kami akan mengambil langkah- langkah hukum atas tindakan oknum polisi tersebut, namun dirinya masih berkoordinasi dengan anggotanya kemana akan dilaporkan kasus itu. Kita akan laporkan kasus ini ke Polda atau kemana, masih kita kaji dulu dengan anggota. Termasuk perusahaan yang mengerjakan proyek itu, akan kami laporkan pada Komisi VI DPR RI," ungkap Safaruddin di Banda Aceh, Selasa (4/4/2017).

Sementara itu Kapolres Aceh Utara AKBP Untung Sangaji, menyangkal keras pengukuan Nurdin tersebut. "Nurdin tidaklah ditangkap apalagi  disiksa, tapi hanya dipanggil ke polres untuk klarifikasi atas tindakannya yang mengganggu pekerjaan pembangunan waduk Kerto, di Paya Bakong, Aceh Utara," katanya.

Menurutnya, polisi memanggil Nurdin karena telah mengancam pekerja dan mengganggu pekerjaan pembangunan waduk Kerto tersebut. " Pekerja tidak tau apa-apa, jadi kalau sudah mengancam ini dapat dipidana. Namun tidak usahlah kita pidana, karena tidak usah kita ributkan lagi. Jadi pemanggilan ini hanya untuk mengklarifikasi saja atas tindakan pengancaman yang bersangkutan," sambungnya.

Dikatakannya setelah meminta keterangan, kemudian Nurdin diizinkan kembali ke rumahnya.

Editor : TAM
Kategori : Aceh Utara, Hukrim
www www