Home >  Berita >  Umum
CERPEN

KEONG-KEONG MALIN KUNDANG

KEONG-KEONG MALIN KUNDANG
Ilustrasi
Selasa, 04 April 2017 06:43 WIB
Penulis: Lail Khair EL Rasyid

Ada yang aneh dengan gerakan yang dilakukan keong-keong di pinggir pematang sawah. Seolah hendak membentuk sebuah lingkaran. Seperti hendak menyuluh api dalam keremangan. Keong yang berada di barisan depan seolah tidak mau menjadi pemimpin. Ia terus mengejar ujung cangkang keong yang dibelakangnya. Keong yang dibelakang seolah tidak mau ketinggalan. Ia terus mengejar keong-keong yang ada di depannya. Menerobos bak pembalap lampu merah. Speed 100km/jam. Deru knalpot meliuk-liukkan rumput-rumput pematang. Saling bersentuhan diterpa panas matahari. Dan menyala merah memunculkan api.

Nyala merah yang menjalar. Menjilati ubun-ubun Malin Kundang yang tengah terpesona bisikan angin. Ujung cangkulnya terus saja mencacah-cacah bumi. Membalikkannya. Menginjaknya. Hingga percikan api telah berteman dengan tetes air dari pori-porinya. Bau!

***

Sedikit rindang. Sedikit angin. Sedikit lelah. Malin sudah menyandarkan punggungnya ke dinding dangau. Tangannya tidak lagi menyeka peluh baunya.  Matanya sudah menembus bulir-bulir padi yang terus menguning. Dua minggu lagi panen datang. Seminggu lagi ubi kayu di parak -kebun- juga sudah harus dicabut. Dua kali Malin akan panen dalam satu bulan itu. Tapi cintanya pada si Ros telah dulu dipanen si Bur. Habis sudah hati Malin untuk si Ros.

***

Berbinar-binar mata Malin melihat ubi kayu yang ditanamnya enam bulan lalu sudah sebesar paha kemenakannya. Rasanya Malin ingin mencium ubi kayu itu kalaulah dia tidak merasa malu. Seperdelapan hektar panennya hari itu. Tentu uangnya bertambah banyak apabila ditambah dengan tabungannya. Bisa untuk melamar anak Pak Icam,  bidadari dari Jorong Tanjuang, Sabrina Ayunani. Sebenarnya nama aslinya Neli Wati. Tapi demi menyesuaikan antara paras anak gadisnya yang cantik dengan nama yang telah salah diberinya sejak awal; maka digantilah nama anak gadisnya oleh Pak Icam dengan nama Sabrina Ayunani.

Ads
Berbulan bulan Malin Kundang dimabuk cinta oleh wajah Sabrina. Tapi Malin tidak pernah merasa susah hatinya. Keyakinannya terhadap tatapan Sabrina sepulang dari Rumah Kerapatan Adat, terus saja memompa semangat Malin setiap mencangkul di sawah dan parak. Setiap hantaman cangkul, terasa satu kali kelebatan mata Sabrina. Setiap seratus kali mata Sabrina mengerjap-ngerjap mata Malin, sebuah lobang untuk menanam ubi kayu bibit jumbo ukuran 1x1x1m selesai sudah. Sampai tercengang cengang pula Mak Linar mendapati Malin sudah di dapur selepas zuhur dengan mulut ‘bercapak-capak’ mengunyah nasi bercampur  teri  kentang balado.

“Lubang ubi kayu sudah selesai semua aku buat, Mak. Amak makan jugalah.” Malin memberikan piring kaleng ke Amaknya. Cepat diambil Mak Linar. Sirihnya diletakkan di sebelah baskom kecil pencuci tangan. Jijik pula Malin melihatnya. Tak suka Malin dengan sirih menyala itu. Sudah tiga hari, sirih itu juga yang dikunyah-kunyah Amaknya.

Kategori : Umum, Aceh
www www