Home >  Berita >  Aceh Timur

Andresen di Ar Raniry: Jangan Ajari Mereka Textbook, tapi Ajari Berbahasa

Andresen di Ar Raniry: Jangan Ajari Mereka Textbook, tapi Ajari Berbahasa
Ilustrasi
Rabu, 29 Maret 2017 14:45 WIB

BANDA ACEH - Prodi Pendidikan Bahasa Inggris menyelenggarakan National Workshop  bertemakan Teacher Training and English Language Teaching. Acara tersebut diadakan di Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Rabu (29/3/2017). 

Dalam siaran pers Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Dr T Zulfikar melalui Mahathir Rafsanjani menyebutkan, acara tersebut tidak hanya dihadiri oleh dosen dan mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Selain itu, juga turut datang guru pamong mahasiswa PPL dan guru Bahasa Inggris se-Aceh.

National workshop tersebut disampaikan pemateri dari Senior Expert Service (SES), Jerman, Deirk Heinrich Andresen. Deirk merupakan seorang ahli dalam pendidikan bahasa, khususnya bahasa Inggris yang telah berpengalaman mengajar di beberapa negara, seperti, Cina, Tanzania, dan Indonesia itu sendiri.

Dia memulai seminarnya dengan menunjukkan beberapa gambar yang telah dia abadikan selama dia mengajar di negara-negara itu. Dari gambar itu telihat jelas perbedaan keadaan ketiga negara tersebut, baik dalam segi sarana maupun pra-sarana pembelajaranya. Per sekolahan di Cina dan Indonesia mempunyai fasilitas sangat memadai, tetapi di Tanzania mereka dalam kondisi sebaliknya.

Ads
“Bagaimana Anda mengajar jika berada Tanzania? Yang hampir tidak ada apa-apa di dalam kelasnya. Bahkan satu textbook saja tidak ada?” tanya Andresen.

Dia menceritakan bagaimana kondisi sekolah di negara tersebut. Kemudian dia menjelaskan, untuk menjadi seorang guru itu tidak harus selalu terpaku pada textbook, namun harus mampu menjadi lebih kreatif dan berpikir di luar biasanya (out of the box).

“Jangan ajari siswamu textbook, tapi ajari mereka berbahasa. Banyak teknik-teknik yang bisa kita gunakan untuk mengajar,” tambahnya sembari menampakkan beberapa gambar ketika ia mengajar di sekolah yang sangat minim fasilitas.

Dia menjelaskan bagaimana untuk memanfaatkan keadaan di dalam mengajar, kita bisa menggunakan benda-benda yang ada disekitar untuk mengajari siswa kita berbahasa Inggris, walaupun hanya dengan seutas tali. Contohnya mengajak mereka bermain dengan tali tersebut, kemudian megajari mereka preposition dan membuat beberapa kalimat sederhana.

“Bagimana cara menghadapi siswa yang tidak mau berbicara dalam bahasa inggris?” Dia menanyakan pertanyaan lanjutan kepada peserta. Dia kembali menceritakan kisahnya ketika ia mengajar di Cina dan Jerman yang siswa-siswinya malu untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Semua itu dikarenakan guru mereka hanya memfokuskan pelajaran bahasa Inggris hanya untuk lulus ujian tulis saja. Tetapi mereka tiak melakukan evaluasi dalam skill speaking. Itulah sebabnya mereka malu saat mau berbicara dalam bahasa Inggris.

“Sebagai seorang guru, kita harus mempunyai cara yang kreatif untuk membiasakan siswa supaya punya keinginan berbicara dalam bahasa Inggris,” ungkap ahli dari Jerman itu.

Dia menjelaskan satu contoh kecil yang bisa terapkan supaya mereka mau berbicara dalam bahasa Inggris. Yaitu, dengan menerapkan metode kerja kelompok dan menggunakan kalimat teka-teki yang harus mereka selesaikan bersama dengan teman kelompok lainnya. Sehingga, mau atau tidak mereka harus saling berbicara untuk menyelesaikan teka-teki tersebut.

Acara tersebut diakhiri dengan sesi tanya jawab dari audience. “Bagaimana cara menghadapi perbedaan kepribadian setiap siswa?” tanya sorang guru dari MAS Darul Ihsan.

Andersen menjaawab, guru harus mengajari mereka sesuai dengan gaya mereka belajar. Karena setiap siswa punya gaya belajar yang berbeda-beda. 

Editor : Kamal Usandi
Kategori : Aceh Timur, Umum
www www