Home >  Berita >  Umum
Resmikan Tugu Islam Nusantara di Barus

Presiden Dinilai Gagal Pahami Sejarah Islam Nusantara

Presiden Dinilai Gagal Pahami Sejarah Islam Nusantara
Anggota DPRA Iskandar Usman Al Farlaky
Minggu, 26 Maret 2017 16:39 WIB
Penulis: Ilyas Ismail

IDI - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Iskandar Usman Al-Farlaky menyatakan, Presiden Jokowi telah gagal memahami sejarah masuknya Islam ke nusantara dengan melakukan peletakan batu pertama pembangunan titik nol Islam Nusantara di Barus, Sumatera Utara.

“Padahal, semua mafhum dan sudah tertulis dalam literatur, Islam pertama di nusantara adalah di Aceh,” kata anggota DPRA asal Peureulak, Aceh Timur ini, Minggu (26/3/2017).

Menurutnya, ada informasi keliru yang disampaikan kepada Presiden Jokowi sehingga permasalahan ini muncul. “Atau jangan- jangan presiden sudah tidak mau mengakui lagi Aceh sebagai pusat peradaban Islam pertama di Asia Tenggara. Ini pembelokan sejarah yang jelas- jelas tidak bisa kami terima selaku orang Aceh,” katanya.

Iskandar mengatakan, dalam Seminar Nasional ke-4 yang berlangsung di Kuala Simpang, Aceh, juga telah diputuskan bahwa masuknya Islam pertama sekali ke Asia Tenggara adalah di Peureulak, Aceh Timur. Kesimpulan ini, katanya, juga bisa dibaca dalam buku yang ditulis oleh almarhum Prof Ali Hasjmi dan almarhum Arifin Amin. “Bukti otentik sekarang berupa mata uang kerajaan Peureulak masih tersimpan sampai saat ini. Selain juga makam-makam para raja,” ujar putera asli Peureulak tersebut.

Ads
Katanya, di Barus, lokasi dibangun tugu nol Islam nusantara sendiri pada zaman Sriwijaya, bahwa Kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun, saat Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Kerajaan Aceh.

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang berkerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, katanya, juga sempat menemukan bahwa pada sekitar abad ke 9-12 M, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis. Warganya dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu.

“Melihat kondisi ini. Aceh telah duluan maju dan menjadi pusat Islam,” ujarnya.

Iskandar menilai, seperti ada faktor kesengajaan untuk mengalihkan Aceh dari pusat peradaban Islam yang sudah diakui dunia sebelumnya oleh pemerintahan saat ini. Tindakan yang dilakukan pemerintah sungguh tidak tepat dan tidak bisa diterima sama sekali.

“Sejak abad pertama hijrah (8 M), agama Islam sudah masuk ke Peureulak Aceh Timur, kemudian berkembang ke Pasee (Aceh Utara). Dalam dua wilayah itu telah berdiri kerajaan Islam. Peureulak masih tradisional, sedangkan Samudra Pasee telah menjalin hubungan diplomatik dengan negara luar.

Editor : Zainal Bakri
Kategori : Umum, Aceh Timur
www www