Home >  Berita >  Politik
Pleno Penetapan Bupati Terpilih Ricuh

Saksi Paslon Ridha-Metro Diusir Paksa Saat Baca Nota Keberatan

Saksi Paslon Ridha-Metro Diusir Paksa Saat Baca Nota Keberatan
Surat keterangan saksi mengenai kronologis kejadian, Rabu (15/3/2017). [Kirfan]
Rabu, 15 Maret 2017 20:52 WIB
Penulis: Kirfan
SINABANG - Saksi paslon bupati dan wakil bupati Simeulue Ridha-Metro mangaku diusir paksa dan diintimidasi oleh petugas dan pihak KIP Siemeulu, saat acara sidang pleno penetapan Bupati Simeulue terpilih, di Aula Dinas Kesehatan kabupaten setempat, Rabu (15/3/2017).Dalam acara pleno penetapan Bupati Simeulue terpilih ini, saksi dari pihak paslon nomor urut 1, M. Johan Jallah dan Kadri Amin dilarang untuk membacakan nota keberatan dan penolakan penetapan pasangan calon terpilih bupati dan wakil bupati Simeulue periode 2017-2022.

Hal ini dijelaskan kedua saksi tersebut kepada GoAceh, Rabu (15/3/2017), bahwa bukan mendapat tanggapan dan pelayanan yang baik, justru mereka diusir paksa keluar dari ruang sidang tersebut serta mengintimidasi mereka, hingga mengakibatkan pakaian bagian lengan kiri Kadri Amin sobek saat ditarik pihak keamanan dan petugas KIP di acara tersebut.

"Kami tidak bermaksud menghalangi penetapan pleno KIP Simeulue, tapi kami hanya ingin menyampaikan nota keberatan dan penolakan penetapan pasangan terpilih karena proses verifikasi ijazah paslon nomor urut 3 atas nama Afridawati tidak sesuai aturan yang berlaku," ungkap Kadri Amin.

Ads
M. Johan Jalla juga mengaku diperlakukan secara tidak baik dan tidak beretika oleh pihak KIP Simeulue yang berujung kericuhan.

"Kejadian ini telah menunjukan bahwa KIP Simeulue tidak netral karena telah memperlakukan kami dengan tidak baik dan tidak beretika, kami tidak membuat keributan, tapi kami dilarang untuk mengutarakan hak kami sebagai saksi, kami patuh pada undang-undang, namun KIP malah mengesampingkan aturan itu," ujar Johan Jalla.

Saat dikonfirmasi GoAceh, salah seorang komisioner KIP Simeulue, Marzan mengatakan, hal tersebut itu tidak benar, pihaknya dan aparat keamanan hanya mengamankan mereka keluar agar tidak terjadi keributan di ruang tersebut.

"Mana mungkin KIP mau mengintimidasi saksi, yang benar adalah keamanan hanya mengamankan mereka keluar supaya tidak terjadi keributan yang lebih besar dan itu sudah menjadi tugas dan tanggungjawab aparat keamanan," kata Marzan.

Editor : Zuamar
Kategori : Politik, Simeulue
www www