Home >  Berita >  Umum
Profil Rektor Universitas Lancang Kuning Dr Hj Hasnati, SH MH

Jadi Rektor Berkat Patuhi Nasihat Ayah

Jadi Rektor Berkat Patuhi Nasihat Ayah
Rektor Universitas Lancang Kuning Dr Hj Hasnati, SH MH. (ist)
Kamis, 12 Januari 2017 07:30 WIB
Penulis: Hasan Basril
''PEREMPUAN sebaiknya jadi guru.''Kalimat itu berulang-ulang disampailkan Chaidir Anwar kepada anak-anak perempuannya. Nasihat tersebut ternyata dipahami dengan baik dan dipatuhi anak-anaknya. Buktinya, empat anak perempuannya memutuskan berkarier di lembaga pendidikan sebagai tenaga pengajar (guru).

Keempatnya adalah: Hasnida, menjadi guru PGA (Pendidikan Guru Agama) di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Prof Dr Elidar Chaidir (guru besar hukum tata negara di Fakultas Hukum Universitas Islam Riau), Dr Hj Hasnati, SH, MH (Rektor Universitas Lancang Kuning) dan Eniwati Chaidir (dosen di Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).

Ya, salah seorang dari empat putri Chaidir Anwar adalah Hasnati, yang kini menjabat sebagai Rektor Universitas Lancang Kuning (Unilak). ''Ayah saya menganggap pekerjaan paling baik bagi perempuan adalah menjadi guru. Makanya Beliau selalu mendorong kami, anak-anak perempuannya untuk menjadi guru,'' ungkap Hasnati saat berbincang-bincang dengan GoRiau.com di ruang kerjanya di kampus Unilak di Jalan Yos Sudarso, Pekanbaru, Rabu (28/12/2016) lalu.

Ads
Hasnati dan saudari-saudarinya yakin benar bahwa ayahnya menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya, karena itu mereka dengan ikhlas mematuhi pesan ayahnya agar memilih pekerjaan menjadi guru. ''Ini sekaligus sebagai bentuk bakti kami kepada orangtua,'' ujarnya.

Hasnati bercerita, setelah tamat kuliah di Fakultas Hukum UIR, dia diterima bekerja di sebuah bank. Namun karena ingin memenuhi harapan ayahnya, Hasnati memutuskan membatalkan bekerja di bank dan memilih menjadi guru (dosen) di Unilak.

Pilihannya yang sekaligus wujud bakti kepada orangtuanya itu ternyata mengantarkan Hasnati mendapatkan amanah memegang jabatan tertinggi di Unilak, yakni menjadi Rektor Unilak periode 2015-2019.

''Kalau saja ayah saya tidak mendorong kami jadi guru, tentu saya tak akan pernah berkarier di kampus, apa lagi sampai jadi rektor,'' kata Hasnati.

Berbeda dengan ayahnya, lanjut Hasnati, ibunya, Chadijah Ali, tidak mengarahkan anak-anak perempuannya menjadi guru, namun Chadijah selalu menekankan bahwa anak-anaknya, termasuk anak perempuannya, harus bersemangat sekolah, kalau perlu melanjutkan pendidikan ke tingkat yang paling tinggi.

''Ibu saya tidak meminta kami jadi guru, tapi Beliau menegaskan bahwa pendidikan sangat penting, termasuk bagi anak perempuan. Makanya Beliau terus-menerus mendorong kami untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi,'' ucapnya.

''Saya masih ingat betul, ibu saya pernah bilang, 'kami mungkin tak akan meninggalkan harta buat kalian, maka rajin-rajinlah sekolah agar memiliki ilmu, karena ilmu itulah yang akan menghidupi kalian nantinya,''' kenang Hasnati sambil mengusap air matanya. Hasnati mengaku, air matanya sering tak terbendung, bila bercerita tentang ibu dan ayahnya.

https://www.gonews.co/assets/imgbank/11012017/gonewsco_htk3v_61.jpgDr Hasnati, SH MH, di ruang kerjanya di gedung Rektorat Kampus Universitas Lancang Kuning. (ist)

Hasnati melanjutkan, ibunya merupakan wanita yang lembut, namun sangat tegas dalam mendidik anak-anaknya. ''Ketika kecil-kecil hingga remaja, menjelang Magrib, kami semuanya sudah berada di rumah. Setelah salat Magrib dan mengaji, kami makan malam bersama-sama. Usai makan malam, ibu akan mendampingi kami belajar,'' terangnya.

Selain menanamkan disiplin, ibunya juga mengajarkan Hasnati dan saudara-saudarnya hidup sederhana dan punya kepedulian terhadap orang lain. ''Menurut Beliau, hidup sederhana akan menumbuhkan kepedulian dan mencegah terjadinya kecemburuan sosial,'' ulasnya.

Terinspirasi Ibu

Bagi Hasnati, ibunya merupakan perempuan tangguh yang menginspirasinya. ''Kalau ditanya, siapa tokoh perempuan yang saya idolakan atau kagumi atau menginspirasi saya? Maka saya akan menjawabnya, ibu saya. Bayangkan, Beliau berhasil membesarkan, mendidik dan mengantarkan sembilan anaknya menggapai cita-citanya masing-masing,'' paparnya.

Jiwa kepemimpinan juga diwarisi Hasnati dari ibunya, karena selain aktif di dunia pendidikan ibunya juga aktif di organisasi sosial dan politik. ''Ibu saya pernah dipercaya jadi Ketua Asyiah Provinsi Riau, pendiri Yayasan Pendidikan Diniyah, pengurus YLPI (Yayasan Lembaga Pendidikan Islam), pengurus Yarsi Ibnu Sina dan pernah jadi anggota DPRD Kampar dari Partai Masyumi,'' terang Hasnati.

Terinspirasi oleh ibunya yang aktif di berbagai bidang dan lembaga, maka ketika kuliah di FH UIR Hasnati pun aktif di organisasi kemahasiswaan. ''Saya pernah dipercaya jadi Wakil Ketua Senat Mahasiswa UIR,'' sebutnya.

https://www.gonews.co/assets/imgbank/11012017/gonewsco_p4grs_60.jpgDr Hasnati, SH MH bersama suaminya, Ir Yusri, MH dan putranya, dr Rafli Haris. (ist)

Sejak mahasiswa di UIR, Hasnati aktif pula sebagai pengurus di organisasi kepemudaan KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Provinsi Riau. ''Saat aktif di KNPI itu saya sering dikirim ke mana-mana mengikuti pelatihan keorganisasian dan kepemimpinan. Kegiatan itu semakin mempertebal jiwa kepemimpinan yang saya warisi dari ibu saya,'' akunya.

Teladan yang diperolehnya dari ibunya dan pengalaman yang didapatnya saat aktif di organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan sangat bermanfaat baginya dalam menjalankan tugas-tugasnya di Unilak, termasuk tugas sebagai rektor.

''Apa yang diajarkan ibu saya dan pengalaman saat aktif di Senat Mahasiswa dan KNPI, sangat membantu saya dalam melaksanakan tugas-tugas di kampus, apa lagi setelah menjabat rektor,'' ucapnya.

Hasnati mengaku tidak pernah menghadapi masalah dalam tugasnya karena isu gender, termasuk setelah dipercaya menjadi Rektor Unilak.

''Orang kampus cara berpikirnya kan lebih terbuka dan objektif. Jadi saya melihat tidak ada ganjalan karena alasan gender. Semua pihak mendukung saya. Terbukti, program-program yang dirancang bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan,'' tegasnya.

Tak Lupa Kodrat

Sebagai rektor di perguruan tinggi yang cukup besar, Hasnati tentu saja sangat sibuk. Namun demikian, dia tak pernah melupakan kodratnya sebagai wanita, sebagai istri dan sebagai ibu.

Hasnati mengaku selalu berusaha menyisihkan waktunya untuk berkumpul bersama keluarga dan menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. ''Saya usahakan tetap bisa memasak dan membersihkan rumah,'' akunya.

Menurut Hasnati, memasak merupakan salah satu wujud cinta kasih istri dan ibu kepada suami dan anak-anaknya. ''Makanya di sela-sela kesibukan, saya selalu berusaha tetap bisa memasak di rumah untuk keluarga,'' ujarnya.

Pesan kepada Generasi Muda

Kepada generasi muda, Hasnati berpesan agar selalu menghormati dan berbakti kepada orangtua. ''Ridha Allah ada pada ridha orangtua, maka berbaktilah kepada orangtua agar Allah memudahkan jalan kita menggapai cita-cita,'' katanya mengingatkan.

Hasnati juga mengingatkan generasi muda agar rajin belajar, mau bekerja keras dan pandai mengatur waktu. ''Agar kuat bertahan dan tetap berjalan lurus di tengah persaingan yang semakin ketat dan keras, dibutuhkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spritual,'' pesannya.

Khusus kepada remaja putri, Hasnati menekankan, jangan pernah menyerah karena alasan terlahir sebagai perempuan. Sebab, bila memiliki kemampuan dan keberanian, maka perempuan bisa berperan, bahkan menjadi penentu kebijakan di berbagai bidang.

''Tapi ingat, jangan sampai melupakan kodratnya sebagai perempuan,'' tegasnya.

Pendidikan dan Karier

Pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga sarjana (S1) diselesaikan Hasnati di Kota Pekanbaru. Hasnati merupakan alumni SD Negeri 1 Pasar Kodim, Senapelan. Tamat SD melanjutkan ke SMP Islam YLPI. Lulus SMP meneruskan ke SMA Negeri 2 Pekanbaru dan tamat tahun 1976.

Tamat SMA melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Islam Riau dan selesai tahun 1984. Pendidikan S2 ditempuh Hasnati di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Sedangkan gelar doktor bidang hukum (hukum bisnis) diperolehnya dari Universitas Islam Bandung (Unisba) tahun 2012.

Tidak lama setelah meraih gelar Sarjana Hukum (SH) dari FH UIR, tahun 1985, Hasnati diterima sebagai dosen di Universitas Lancang Kuning. Saat itu ia juga dipercaya menjadi Sekretaris MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum).

Setahun kemudian, 1986, ditunjuk jadi Kepala Bagian Akademis di Unilak dan tahun 1987 dipromosikan jadi Kepala Biro Akademis.

Tahun 1987 Hasnati lulus sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) Diperbantukan yang ditugaskan di FH Unilak. Karier Hasnati di Unilak selanjutnya terus melejit. Tahun 1990-1992 dipercaya sebagai Wakil Dekan I FH Unilak, 1992-2000 menjabat Dekan FH Unilak, 2011-2015 menjabat Wakil Rektor I Unilak dan puncaknya, November 2015, terpilih menjadi Rektor Unilak. Jabatan ini akan dipegang Hasnati hingga 2019 mendatang.

''Alhamdulillah, sejak November 2015 hingga 2019 mendatang saya diberi amanah menjalankan tugas sebagai Rektor Universitas Lancang Kuning,'' ucapnya.

Hasnati merupakan perempuan pertama yang mendapat kepercayaan menjabat rektor pada universitas di bawah naungan Yayasan Raja Ali Haji tersebut.

Tentang Keluarga

Hasnati yang lahir di Pekanbaru, 15 Januari 1959, merupakan putri dari pasangan Chadijah Ali dengan Chaidir Anwar. Ibunya berasal dari Pekanbaru, sedangkan ayahnya perantau dari Kota Arang, Sawahlunto, Sumatera Barat. Keduanya dulu bekerja sebagai PNS (pegawai negeri sipil) di Departemen Penerangan (Deppen).

Hasnati anak kelima dari sembilan bersaudara. ''Saya persis berada di tengah-tengah. Kakak saya empat, adik saya juga empat,'' ucapnya.

Kakaknya yang sulung adalah Hasnida, dulunya bekerja sebagai guru PGA (Pendidikan Guru Agama) di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Kedua, Firdaus, dulunya bekerja di Bank Bumi Daya (kemudian dilebur ke Bank Mandiri). Ketiga, Prof Dr Elidar Chaidir, guru besar hukum tata negara di Fakultas Hukum UIR. Keempat, Amir Mukhlis (almarhum), semasa hidupnya berusaha sebagai wiraswasta.

Di bawah Hasnati ada Erniwati Chaidir, dosen di Fakultas Tarbiyah UIN Suska dan juga Direktur PT Sifa Utama. Selanjutnya, Ir Chalisman, sekarang menjabat sebagai Kepala Dinas Cipta Karya Kampar. Kemudian, Ir Irfan (almarhum) dan paling bungsu adalah Fajrul Khairi, SE, berprofesi sebagai wiraswasta.

Sama dengan ibunya, Hasnati juga berjodoh dengan lelaki asal Minangkabau, yakni Ir Yusri, MH. Yusri merupakan PNS yang memasuki masa pensiunnya saat bertugas di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Riau beberapa tahun lalu.

Dari pernikahannya dengan lelaki asal Koto Gadang, Kabupaten Agam tersebut, Hasnati dikaruniai seorang putra yang diberinya nama Rafli Haris. Rafli Haris yang kini berusia 26 tahun bekerja sebagai tenaga medis di Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Yogyakarta. Rafli merupakan lulusan Fakultas Kedokteran UII Yogyakarta.

''Meski anak satu-satunya, saya tidak memanjakannya. Saya mendidiknya, sebagaimana ibu saya mendidik kami dulunya. Alhamdulillah, akhirnya Rafli bisa mewujudkan cita-citanya menjadi dokter,'' ucap Hasnati sambil tersenyum.***

Kategori : Umum, Pendidikan
www www