Home >  Berita >  Lhokseumawe

BI Lhokseumawe Panen Bawang Putih 0,5 Ha di Bener Meriah

BI Lhokseumawe Panen Bawang Putih 0,5 Ha di Bener Meriah
Kepala KPw BI Lhokseumawe Yufrizal, Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto, Plt Bupati Bener Meriah Rusli M Saleh memanen perdana bawang putih pada lahan seluas 0,5 ha, Rabu (5/10/2016).
Rabu, 05 Oktober 2016 22:46 WIB
Penulis: Mustafa Kamal
REDELONG – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Lhokseumawe memanen perdana bawang putih pada lahan seluas setengah hektare di Bener Pepanyi, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, Rabu (5/10/2016). Pada kesempatan itu, juga diserahkan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) berupa pembangunan mushala Al-Ikhlas dan traktor tangan.Hadir pada panen perdana tersebut, Plt Bupati Bener Meriah Rusli M Saleh, Kepala Departemen Regional I Dian Ediana Rae, Kepala Kpw BI Lhokseumawe Yufrizal, Ketua dan anggota Kelompok “Rintis Pepanyi”, serta pimpinan perbankan, dan Forkopimda.

Dalam sambutannya, Deputi Gubernur Bank Indonesia Erwin Rijanto mengatakan, salah satu mandat diamanatkan kepada BI adalah memelihara kestabilan nilai rupiah. Salah satunya adalah kestabilan tingkat harga umum atau inflasi.

Sambung Erwin, tiga alasan tingkat inflasi perlu dijaga, yaitu inflasi menggerogoti pendapatan riil masyarakat. Pada gilirannya akan menurunkan daya beli. Inflasi membuat masyarakat menjadi lebih miskin, dan membuat masyarakat yang sudah miskin menjadi semakin miskin.

Ads
Lalu, inflasi yang tidak terkendali menciptakan ketidakpastian. Sulit bagi petani untuk merencanakan proses produksi yang baik jika tidak ada kepastian harga di pasar.

Sementara terakhir, inflasi yang tidak terkendali menyebabkan inefisiensi (pemborosan) dan menciptakan ekonomi biaya tinggi. Hal ini tentunya akan menurunkan daya saing perekonomian.

“Berangkat dari pemahaman itu, upaya pengendalian inflasi menjadi perhatian kita. Kestabilan inflasi merupakan prasyarat tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi kurang bermakna apabila diikuti oleh kenaikan inflasi yang tinggi pula,” ujar Erwin.

Salah satu sumber tekanan inflasi yang harus diwaspadai adalah komoditas pangan (volatile foods) terutama beras, cabai merah, bawang merah, bawang putih, daging ayam ras, dan daging sapi. Secara historis, adanya gangguan produksi dan suplai dari komoditas volatile foods tersebut akan meningkatkan tekanan inflasi.

Komoditas bawang putih, menurut data Kementerian Pertanian menunjukkan defisit (kekurangan) produksi dibandingkan dengan kebutuhannya. Pada 2013, konsumsi bawang putih nasional mencapai 455.592 ton, sedangkan produksi hanya sebesar 15.766 ton (3,46%).

“Kondisi demikian, harus kita cermati bersama agar pada gilirannya dapat menjadi pelajaran dalam membangun kemandirian Bangsa dalam ketahanan pangan,” sebut Deputi Gubernur BI.

Merespon tingginya inflasi komoditas volatile foods tersebut, BI menginisiasi beberapa program pengendalian inflasi, salah satunya adalah melalui pengembangan klaster yang dilaksanakan oleh seluruh Kantor Perwakilan (KPw) BI.

Saat ini, jumlah klaster komoditas penyumbang inflasi dan ketahanan pangan mencapai 140 klaster meliputi 15 komoditas di 45 KPw BI. Khusus untuk komoditas bawang putih, terdapat 3 KPw BI yang telah mengembangkan klaster bawang putih, yaitu KPw BI Tegal dengan luas lahan 15 ha, KPw BI Solo pada lahan seluas 5 ha, dan KPw BI Lhokseumawe pada lahan seluas 0,5 ha di Bener Meriah.

www www