Aceh International Rapa ‘i Festival 2016

Wisata Halal Aceh Melalui Seni Musik Rapa ’I yang Berasal dari Arab

Wisata Halal Aceh Melalui Seni Musik Rapa ’I yang Berasal dari Arab
Wisata Halal Aceh
Minggu, 14 Agustus 2016 08:09 WIB
Sebuah even budaya berskala internasional bernama “Aceh International Rapa ‘i Festival 2016” akan diselenggarakan pada tanggal 26 sampai 30 Agustus 2016 di Banda Aceh. Rapa ‘i adalah salah satu atraksi seni musik perkusi Aceh berasal dari Timur Tengah yang dibawa oleh seorang penyair Islam ke Aceh bernama Syech Rapa ‘I sebagai salah satu media penyebaran agama Islam.

Penyelenggaraan “Aceh International Rapa ‘i Festival 2016” diawali dengan acara launching yang dilakukan oleh Bapak Menteri Pariwisata RI di Balairung Soesilo Soedarman, pada tanggal 4 Agustus 2016 di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata RI, Jakarta sebagai pertanda akan dimulainya “Aceh International Rapa ‘i Festival 2016” sebagai salah satu atraksi budaya yang menarik untuk dikunjungi dan dinikmati.

Launching “Aceh International Rapa ‘i Festival 2016” yang berlangsung meriah dan sukses dihadiri oleh Bapak Menteri Pariwisata RI, sekaligus memperkenalkan Branding Pariwisata Aceh yang baru dengan taglinenya “The Light of Aceh” atau “Cahaya Aceh” yang merefleksikan semangat masyarakat disatukan dalam Syariat Islam yang Rahmatan Lil ’alamin dengan cahaya terang benderang yang memberikan syafa’at, kebaikan dan kemakmuran bagi semua.

Pengenalan branding tersebut sekaligus memperkenalkan visualisasi pesona alam dan budaya sebagai moment penting dalam mensosialisasikan kesiapan Aceh sebagai Destinasi Wisata Halal yang ramah kepada pengunjung yang akan datang ke Aceh.   

Atraksi musik “Rapa ‘i” sangat terkenal di Aceh dan sering ditampilkan dalam berbagai atraksi seni budaya Aceh. Melalui atraksi seni musik ini, wisatawan yang berkunjung ke Aceh dapat merasakan langsung nuansa kehidupan masyarakat Aceh yang berbudaya dan memiliki nilai seni yang tinggi. Suguhan alat musik tradisional perkusi berupa rapa’i akan menjadi tontonan menarik, seperti Rapai Pasee, Rapai Daboih, Rapai Geurimpheng, Rapai Pulot, dan Rapai Geleng.

Selain memiliki branding dan positioning yang kuat, Aceh juga memiliki berbagai daya tarik wisata yang unik dan berbeda dengan daerah-daerah wisata lainnya, seperti pesona alam dan budaya Aceh, keramahan masyarakat, keunikan sejarah dan peninggalan Tsunami. Atraksi wisata Aceh juga dikemas melalui penyelenggaraan berbagai event budaya dan pariwisata yang terangkum dalam Calendar of Event Aceh, salah satunya “Aceh International Rapa ‘i Festival 2016”.

Yang paling menarik dan atraktif dari penyelenggaraan “Aceh International Rapa ‘i Festival 2016” adalah kehadiran peserta dari beberapa Provinsi yang juga memiliki jenis musik serupa, seperti Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Makassar dan Surabaya dan peserta negara asing lainnya, seperti Cina, Thailand, Malaysia, India, Iran dan Singapore.

Artis nasional dan internasional juga akan memeriahkan festival bergengsi ini, seperti Daood Debu, Rafli Kande, Tompi, Gilang Ramadhan, Moritza Taher dan Steve Thornton.

Penampilan Perkusi Etnik International, Tour Perkusi, Seni Budaya Expo, Workshop dan Klinik Perkusi dan City Tour akan mewarnai dalam rangka mensukseskan “Aceh International Rapa ‘i Festival 2016”, sebagai daya tarik wisata tersendiri dalam memperkenalkan kekayaan dan keunikan khasanah budaya Aceh kepada wisatawan.

Sebagai Destinasi Wisata Halal yang dideklarasikan oleh Kementerian Pariwisata RI saat launching “Aceh International Rapa ‘i Festival 2016”, Aceh berhak untuk menyandang pengakuan tersebut, sekaligus mempersiapkan diri sebagai “World’s Best Halal Cultural Destination” atau “Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim” melalui Kompetisi Pariwisata Halal Tingkat Nasional 2016 secara voting “online” pada tanggal 18 Agustus s.d 7 September 2016.

Sebagai destinasi wisata halal tentu akan menjadi peluang dan tantangan baru bagi masyarakat dan Pemerintah Aceh dalam menyambut dan melayani wisatawan melalui pelayanan maksimal, khususnya dalam hal penyediaan usaha pariwisata yang berbasis syariah, seperti sarana ibadah yang bersih dan penyajian produk makanan/minuman yang ramah dan higienis dan bersertifikasi.

Dikenalnya Aceh dengan berbagai julukan, seperti Serambi Mekkah, Bumi Iskandar Muda, Bumi Srikandi dan Daerah Modal serta keberadaan beberapa ulama besar kharismatik, seperti Syeh Abdurrauf, Syamsuddin Assumatrani, Nuruddin Arraniry, Hamzah Fanshuri yang pernah memberi andil besar dalam mengharumkan sejarah Aceh akan memperkuat positioning Aceh sebagai Destinasi Wisata dan gaya hidup halal.

Prospek bisnis wisata halal di Aceh sangat menjanjikan karena semua sendi kehidupan berbasis syariat Islam, serta memperkenalkan syariat Islam yang Rahmatan lil ’alamin, yang memberikan manfaat dan kebaikan bagi semua.

Kunjungan wisatawan ke Aceh terus meningkat dengan semakin dikenalnya destinasi wisata Aceh. Tahun 2015 kunjungan wisatawan mencapai 1,7 juta terdiri 1,6 juta wisnus dan 54 ribu wisman atau meningkat sekitar 20% dibandingkan tahun 2014. Melalui promosi Aceh sebagai destinasi wisata halal, angka kunjungan wisatawan ke Aceh diprediksikan akan terus meningkat dan ditargetkan angka kunjungan wisman mencapai 100.000 orang tahun 2016.

Ayo kunjungi Aceh sebagai Destinasi Wisata Halal Dunia, nikmati pesona alam dan budayanya dan dukung Aceh sebagai “World’s Best Halal Cultural Destination” atau “Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim”. [adv]

Ads
wwwwww