Aceh Tengah Juara 2 Festival Kopi Nusantara

Aceh Tengah Juara 2 Festival Kopi Nusantara
Ilustrasi
Senin, 25 Juli 2016 08:03 WIB
BONDOWOSO - Kelompok petani Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso menjuarai lomba uji cita rasa pada Festival Kopi Nusantara di lereng Gunung Ijen, Bondowoso, Jawa Timur."Yang menjuarai lomba uji cita rasa kopi arabika dalam Festival Kopi Nusantara yang pertama kali diselenggarakan di Bondowoso, yaitu kelompok Suyitno asal Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso," ujar Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, Misnawi, salah seorang juri, Minggu (24/7/2016).

Sementara juara dua uji cita rasa kopi arabika diraih oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Aceh Tengah, dan juara ketiga diraih oleh Atieq, CV Frinsa Agrilestari KP Mulyana, Pengalengan, Kabupaten Bandung.

Ia mengemukakan, peserta lomba uji cita rasa kopi adalah kelompok tani dari berbagai daerah. Sebanyak 84 kelompok tani antara lain dari Aceh Tengah, Sulawesi serta Kabupaten Bandun, Jawa Barat, menjadi peserta lomba uji cita rasa pada Festival Kopi Nusantara.

Ads
Penilaian meliputi kualitas, jaminan suplai kopi, dan juga pelayanan kelompok tani pada pembel, karena harga kopi 90 persen dinilai dari kualitas.

Dalam lomba uji cita rasa pada Festival Kopi Nusantara, kata dia, sementara yang dinilai kualitas kopinya saja karena dari situ, pembeli bisa memberikan aspresiasi kepada petani kopi di Bondowoso.

"Ada keunikan di Bondowoso, karena yang dijual adalah pendatang baru yakni kopi rakyat yang dikerjasamakan dengan Perhutani sehingga lebih sulit pengawasan kepada petani-petani kopi di sini. Oleh karena itu pemerintah daerah dan juga kelompok tani di Bondowoso harus tetap menjaga kualitas kopinya," katanya.

Suyitno mengaku selama ini bersama dengan kelompok tani di bawah binaannya memproses kopi sesuai dengan prosedur baku mulai dari pemetikan hingga menjadi kopi OC atau berasan.

"Proses yang yang kami lakukan untuk menghasilkan kopi berkualitas tinggi yaitu, petik kopi harus sudah benar-benar masak merah segar, walaupun masak tetapi tidak segar akan disortir. Selanjutnya, kopi merah tersebut digiling pecah kulit. Setelah menjadi kopi OC atau berasan baru direndam dan dicuci, sedangkan kopi yang mengambang kami buang," paparnya.

Ia menuturkan, proses selanjutnya dilakukan fermentasi selama 36 jam, lalu dijemur setengah kering. Kemudian digiling dan dijemur hingga kering.

Setelah kopi kering, dipilah, kopi kecil dan pecah-pecah disortir, serta yang bagus masuk masuk nomor satu.

"Faktor utama yang menyebabkan kualitas kopi rendah terjadi saat proses panen. Karena terkadang kopi yang masih kuning dan hijau juga dipetik dan itulah kesalahan yang paling fatal," tuturnya.

Mantan Kapolsek Pujer, Polres Bondowoso itu mengaku bertani kopi sejak 1986. Saat ini sudah ada sekitar 40 ha lahan kopi arabika yang dikelola kelompoknya.

Editor:Kamal Usandi
Sumber:kontan.co.id
Kategori:Aceh Tengah, GoNews Group, Ekonomi
wwwwww