Pencinta Bangunan Kuno, Berkunjunglah ke Sabang

Pencinta Bangunan Kuno, Berkunjunglah ke Sabang
Salah pantai di Sabang [republika.co.id]
Minggu, 24 Juli 2016 07:04 WIB
Sejarah mencatat, Sabang adalah kota para pelaut. Tak afdal jika saya tak memasukinya dari arah laut. Sabang, Pulau Weh, berada di ujung barat Sumatera. Sejatinya, ada dua akses untuk bisa mencapainya. Lewat udara dengan memakai pesa wat dari Bandara Kuala Namu, Me dan, atau jalur laut menyeberang melintasi Samudra Hindia dari Pe labuhan Ulee Lheu, Banda Aceh.Yang terakhir itulah yang saya pilih. Pulau Weh punya sejarah masa lalu yang bisa dibanggakan. Seorang ahli bumi Yunani, Ptolomacus, Sinbad Si Pelaut, dan Marco Polo konon pernah mengunjunginya. Pada masa penjajahan kolonial. Lokasi Sabang yang strategis membuat Belanda membangun sebuah derma ga. Sejak 1895, Sabang pun bergeliat menjadi pelabuhan bebas.

Posisi sebagai pulau terluar di Selat Malaka menjadikan Sabang lebih sering dising gahi kapal dagang asing ketimbang Singapura. Di Nusantara, nama Sabang lebih harum daripada Sunda Kelapa. Sabang yang dulu merupakan desa nelayan berubah jadi kota terpenting di jalur lalu lintas perdagangan dan pelayaran dunia. Tapi, itu dulu. Sejak 1985, Orde Baru mengalihkan pelabuhan bebas dari Sabang ke Batam.

Akibatnya, kota tersebut kini sunyi dan sepi. Jika Anda pencinta bangunan-bangu nan kuno, berkunjunglah ke Sabang. Ada sekitar 80 gedung bergaya neoclassic dan art nouveu bekas Belan da yang masih utuh berderet rapi sepanjang jalan. Suasana yang damai dan tenang semakin mengukuhkan suasana pada masa silam. Di Sabang memang tidak ada angkot atau motor yang ugal-ugalan.

Ads
Bunyi klakson kendaraan yang terjebak dalam kemacetan tak akan kita dengar. Jalanan di kota ini teramat he ning. Aspalnya mulus tanpa lubang. Jujur saja, saya belum menemukan kerusakan aspal yang berarti. Kenyamanan itulah yang membuat saya bisa menggeber motor dengan kecepatan 50–60 kilometer per jam tanpa henti. Hanya butuh waktu beberapa jam untuk bisa mengelilingi seluruh lokasi wisata di sana. Maklum, luas Pulau Weh hanya 150 km2. Jalanan di Sabang berkelok, naik dan turun.

Menyisir jurang, menelusuri pantai, dan menembus hutan. Berkeliling di Sabang, Anda harus berhati-hati pada dua hal: babi hutan dan sapi. Merekalah penguasa jalanan. Beberapa kali saya sempat celaka karena mereka menyeberang dengan seenaknya. Huh! ’’Di sini, kecelakaan rata-rata karena sapi dan babi apalagi kalau malam. Karena tak ada lampu jalan, harus hati-hati, Bang,’’ ucap Zainal, warga lokal.

Reyhan Gufrian, mahasiswa semester akhir jurusan psikologi Uni ver sitas Syah Kuala, Banda Aceh, mengamati Sa bang selama tiga bulan. Dia me ne lisik soal happiness index. Suatu hal yang rumit dan kompleks. Hasil pene li tiannya, bagi penduduk Sa bang, kebahagiaan adalah ketenangan. Sosok itulah yang menemani saya berkeliling Sabang.

Saya sempat tertegun saat melihat banyak sepeda motor terparkir dengan kunci kontak yang masih tergantung. ’’Di sini sudah biasa. Mau ditaruh semalaman juga motor itu gak akan hilang,’’ katanya. Keamanan merupakan faktor penting pondasi dasar ketenangan. Alangkah terkejutnya saya saat datang ke Polres Sabang dan melihat laporan kasus kriminal yang terjadi di pulau itu.

Per bulan hanya berkisar belasan kasus. Itu pun kebanyakan adalah kasus perkelahian. Bukan pencurian atau pembunuhan. Saat konflik, Sabang adalah daerah merah, basis GAM. Di pulau itu juga terdapat markas militer TNI-AL. Namun, kedua pihak sepakat menahan kontak tembak. Di Sabang, malam adalah siang dan siang adalah malam. Kebanyakan aktivitas dilakukan saat malam. Kultur sebagai bekas kota nelayan masih membekas di sana. Saat siang datang, kesunyian akan menghinggapi.

Saya sempat sulit mencari rumah makan yang buka siang. ’’Jika malam tiba, masyarakat di sini tak pernah mencoba gaduh atau riuh. Kebahagiaan yang mereka rasakan didapat dari rasa sunyi, te-nang, dan sepi yang mereka ciptakan saat berinteraksi,’’ ungkap Reyhan. Eksotisme pantai-pantai di Sabang, khususnya di pesisir pantai barat, jadi daya tarik wisatawan.

Pantai pasir putih yang menghampar dipadu ketenangan ombak dan siluet warna hijau tosca yang tempias membayang dari dasar laut selalu jadi primadona. Banyak resor di sepanjang Pantai Kasih, Pantai Sumur Tiga, dan Pantai Ano Itam. Sayangnya, kebanyakan resor itu dimiliki orang asing. ’’Saya senang di Sabang. Dua hal yang selalu saya promosikan: ketenangan dan kedamaian.

Orang senang dengan hal itu. Biarkanlah pulau ini tetap terasing,’’ ucap warga negara Belanda pemilik bungalo, Casa Nemo. Sabang adalah lokasi tepat bagi kaum urban kota untuk menghilangkan penat. Namun, yang menjadi soal, bisakah Anda mendapat kebahagiaan dalam ketenangan di Sabang? Mengutip filsuf Jean Paul Sartre, ’’Jika Anda merasa tak bahagia di tempat sesuatu yang tenang, berarti ada yang salah dalam diri Anda.

Editor : Kamal Usandi
Sumber : jpnn.com
Kategori : GoNews Group, Sabang
www www