Home >  Berita >  Umum

Kedai Kopi Aceh, Dulu Ramai Bapak-bapak Bersarung, Kini Jadi Tongkrongan Anak-anak Muda

Kedai Kopi Aceh, Dulu Ramai Bapak-bapak Bersarung, Kini Jadi Tongkrongan Anak-anak Muda
ilustrasi
Senin, 08 Februari 2016 09:04 WIB

BANDA ACEH - Setiap kota selalu punya budaya unik sendiri. Begitu pula di Banda Aceh, kota yang dikenal dengan julukan Serambi Mekkah. Di kota ini, budaya minum kopi setiap sore selalu jadi pilihan warga kota paling barat di Indonesia ini.

Pada 80-an, budaya ngopi di Banda Aceh identik dengan bapak-bapak yang duduk di warung kopi tradisional. Warung kopi ini biasanya hanya toko kecil berisi meja dan kursi. Sebuah dapur tempat penjual meracik kopi terletak di depan pintu masuk.

Biasanya kopi pekat dan pisang goreng menjadi pilihan bapak-bapak bersarung itu sambil menunggu waktu shalat Magrib tiba. Selain kopi hitam, kopi susu juga menjadi favorit. Biasanya, orang Aceh menyebut kopi kopi susu dengan nama sanger.

Budaya terus berubah. Sejak awal 2010-an, ngopi sore jadi kegiatan anak-anak muda. Kedai kopi yang dulu tradisional dengan pilihan terbatas kini banyak berubah menjadi kedai kopi modern berkonsep espresso bar.

Ads
Kedai kopi semacam ini banyak ditemui di Ulee Kareng, Banda Aceh. "Walaupun kedai kopi kini didominasi anak muda, kopi hitam pekat dan sanger masih disukai," ujar Kasyful Humam, pemilik kedai kopi Tanabata di Jalan Teuku Iskandar, Ulee Kareng.

Di kedai ini, sanger arabika menjadi favorit. Bahan utamanya bubuk kopi gayo. Bubuk kopi diekstrak degan mesin espresso. Tambahkan susu krimer dengan perbandingan 20 gram susu dan 30 mililiter kopi gayo arabika. Rasa dan aromanya sungguh beda

"Asam khas arabika bercampur manis dari krimer bikin segar," ujar Muhammad Nanda Aulia, salah satu pengunjung Tanabata. Sanger Arabika dihargai Rp 10 ribu per gelas. Cukup murah ketimbang harga kopi standar di Jakarta seharga 25-40 ribu per gelas.

Tanabata berkonsep open bar. Semua pengunjung bisa melihat bagaimana proses pembuatan kopi yang mereka pesan. Kopi-kopi gayo arabika tadi ada pula yang diolah dengan manual brew. Disajikan panas ataupun dingin alias cold brew.

Selain Tanabata, kedai kopi lain di Ulee Kareng pun banyak yang berubah konsep menjadi espresso bar. Dulu dipenuhi orang tua, kini banyak mudi-muda. Ngopi di Banda Aceh menjadi budaya yang patut dicoba.***

Editor : Ridwan Iskandar
Sumber : tempo.co
Kategori : Umum, GoNews Group, Banda Aceh
www www