Terganggu Limbah dan Polusi Asap, Ratusan Massa Demo Pabrik Sawit PTPN I di Tanjung Seumantoh

Terganggu Limbah dan Polusi Asap, Ratusan Massa Demo Pabrik Sawit PTPN I di Tanjung Seumantoh
Massa membakar ban sambil berorasi di pintu gerbang PKS Tanjung Seumantoh, Karang Baru, Rabu (2/12).
Kamis, 03 Desember 2015 08:31 WIB
KUALA SIMPANG - Ratusan masyarakat dari sembilan desa yang tergabung dalam Gerakan Meusapat Anti Polusi Udara (Gempur) Aceh Tamiang melakukan ujuk rasa ke pabrik kelapa sawit (PKS) Tanjung Seumantoh, milik PTPN I (Persero) Aceh, Desa Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Rabu (2/12).Massa berasal dari Desa Simpang Empat, Tanjung Seumantoh, Alur Bamban, Paya Metah, Paya Kulbi, Paya Awe dan Paya Bujuk, Kecamatan Karang Baru; serta Upah dan Matang Tepa, Kecamatan Bendahara.

Dalam aksi yang dimulai sekitar pukul 10.30 WIB itu, massa langsung memasang pamflet bertuliskan “PKS ini disegel atas nama rakyat”. Setelah itu, mereka berorasi. Masyarakat membawa poster sindiran dan berusaha merangsek masuk ingin menemui pimpinan PKS.

Sekitar tiga pleton personel Polres Aceh Tamiang dan Polsek Karang Baru serta puluhan tenaga pengamanan PKS Tanjung Seumantoh dikerahkan untuk menghalau massa dengan membentuk barisan berlapis di bawah komando Kabag Ops Polres Aceh Tamiang, Kompol Edi Bagus.

Ads
Di depan jembatan timbang TBS PKS ini, massa membacakan tujuh tuntutannya. Di antaranya, meminta Dirut PTPN I Langsa menutup sementara operasional PKS Tanjung Seumantoh sebelum ada penyelesaian mengenai sistem pembuangan limbah dan polusi udara asap pekat dari cerobong pabrik yang menyemburkan parikulat abu ketel yang sampai kini belum teratasi.

Kemudian, membayar uang kompensasi kepada masyarakat di lingkungan perusahaan yang menjadi korban abu ketel dan limbah cair PKS yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Tuntutan lainnya, menuntut janji pelepasan lahan lapangan sepakbola Meusafat, Kampung Simpang Empat dan lahan meunasah (surau) Dusun Sepakat, Kampung Alur Bemban, Ke­camatan Karang Baru, yang pernah dijanjikan PTPN I. Massa juga mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengaudit keuangan BUMN ini.

Usai membacakan petisi, para pendemo kembali berorasi meneriakkan yel-yel dan bernyanyi menyindir perusahaan dan meminta manajer PKS Tanjung Seumantoh dicopot karena dianggap tidak peka penderitaan rakyat.

Massa nyaris terpancing emosi setelah satu jam berorasi ternyata tidak juga dijumpai otoritas PKS Tanjung Seumantoh. Akhirnya, Kaur Humas dan Protokoler PTPN I, Syaifullah; didampingi Kepala Papam PTPN I Aceh, AKBP P Simbolon; dan Kabag Teknik, Cakhtiar Basyah datang menemui pengunjuk rasa. Pertemuan dimediasi Kabag Ops Polres Aceh Tamiang.

Dalam pertemuan itu, Koordinator Aksi, Haprizal Rozy kembali menyampaikan tuntutan masyarakat, termasuk limbah cair PKS yang merusak lahan pertanian palawija masyarakat Paya Awe sehingga merugikan masyarakat.

“Kami minta perusahaan melalui Kaur Humas untuk menyelesaikan masalah ini dengan membuat peryataan tertulis ditandatangani di atas materai,” cetusnya seperti dikutip dari analisadaily.com.

Syaifullah berjanji mengakomodir semua permintaan masyarakat dengan membuat peryataan tertulis. “Kami berjanji pada 2016 masalah abu ketel bisa diatasi. Alat sudah dipesan, selambat-lambatnya Agustus 2016 sudah selesai dipasang,” katanya.

Bakhtiar Basyah menambahkan, saat ini PKS Tanjung Seumantoh memiliki dua boiler; satu unit layak pakai dan lainnya sudah sering rusak. Jika hanya satu boiler yang dioperasikan, tidak bisa menampung TBS dari pemasok pihak ketiga.

Terkait limbah cair, menurutnya, sudah tidak pernah terjadi lagi karena limbah PKS sudah dikelola dalam kolam dan bukan dibuang ke sungai.

Kemudian perwakilan PTPN I ini meninggalkan kerumunan massa dan kembali ke kantor manajer untuk membuat surat pernyataan tertulis yang diminta massa dalam waktu 15 menit.

Namun, karena terlalu lama menunggu, massa geram geram. Mereka kembali berorasi sambil membakar ban. Bahkan, Koordinator Gempur, Mustafa Kamal, menerobos ke kantor manajer hingga nyaris terjadi bentrokan.

“Mereka tidak peduli keberadaan kami. Mereka asyik makan minum sementara kami kepanasan. Kami hanya ingin tahu sikap mereka dari pernyataan tertulis yang kami minta,” terangnya.

Pasca didobrak, pertemuan dengan Kaur Humas PTPN 1 kembali terjadi. Syaifullah membawa selembar kertas berisi jawaban atas tuntutan masyarakat. Namun pihaknya enggan menandatanginya, apalagi di atas materai sehingga membuat masyarakat kecewa sehingga perusahaan dianggap tidak tulus menyelesaikan persoalan.

Massa yang kesal akhirnya membubarkan diri meninggalkan PKS menuju ke lapangan bola kaki Tugu Upah untuk mendiskusikan langkah selanjutnya.***

Editor : Ridwan Iskandar
Sumber : analisadaily.com
Kategori : Aceh Tamiang
www www