Home >  Berita >  Ekonomi

International Sanger Day di Banda Aceh Berlangsung Meriah

International Sanger Day di Banda Aceh Berlangsung Meriah
Senin, 02 November 2015 08:07 WIB
BANDA ACEH - Racikan kopi dan susu bernama ‘sanger’ khas Aceh kini makin digemari. Selain menetapkan hari Sanger pada tanggal 12 Oktober, juga digelar International Sanger Day.Acara International Sanger Day tahun ini mengusung tema “Sanger ban sigom donya”. Selain konsep ala street food yang kita tawarkan secara lesehan bagi pengunjung, penikmat sanger juga diajak bincang-bincang terkait perkembangan minuman khas Aceh. “Diharapkan menjadi ikon menarik sebagai bentuk promosi dan daya tarik wisata di Aceh,” kata Irwanti, penanggungjawab acara pada detikcom sebagaimana dikutip GoAceh.co (30/10)

Puncak perayaan Sanger Day tahun ini digelar di pelataran Pasar Atjeh, Banda Aceh pada Sabtu (31/10) tadi malam dan diiniasi oleh komunitas I Love Aceh. Puncak perayaanya kali ini terbilang unik.

Konsep acara dikemas dengan mengangkat kembali kearifan lokal, yakni pengunjung yang datang wajib memakai kain sarung sembari duduk lesehan dan menikmati sanger ditemani timphan.

Ads
Di Aceh, hampir semua warung kopi menyediakan minuman ala cappucino ini. Sanger makin nikmat jika diminum sambil mengudap timphan, pulot, adee dan jajanan lainnya.

Sanger diracik dengan air kopi, susu kental manis, dan kadang ditambah sedikit gula. Air kopinya diseduh dengan cara ‘ditarik’. Disaring dalam saringan berbentuk kerucut kemudian ditarik sehingga muncul buih-buih di permukaan saat dituangkan ke dalam gelas. Warnanya, sedikit kecoklatan.

Istilah sanger dipopulerkan oleh mahasiswa pada tahun 1997 disebuah warung kopi di kawasan Ulee Kareng Banda Aceh. Di sana, ada satu warung kopi berkontruksi kayu yang sering dijadikan mahasiswa sebagai tempat nongkrong. Bahkan jika sudah larut malam, banyak mahasiswa sering tidur di situ.

Kala nongkrong, mahasiswa yang tidak suka minum kopi hitam ingin memesan kopi susu. Tapi harganya tidak terjangkau karena saat itu krisis moneter sedang melanda Indonesia. Semua bahan naik harganya, termasuk susu dan gula. Mereka akhirnya bernegosiasi dengan pemilik warung dan meminta dibuatkan kopi dengan mengurangi takaran susu dan menambah sedikit gula.

“Atas dasar saling pengertian atau sama-sama ngerti inilah kemudian disingkat dengan ‘sanger’,” kata Adi Warsidi, seorang pecinta kopi dan sanger di Banda Aceh, Minggu (1/11/2015).

Lama kelamaan, istilah sanger semakin populer dikalangan pecinta kopi. Jika ada pelanggan minta sanger, pemilik warung langsung menyajikan kopi yang sudah dicampur dengan susu dan sedikit gula.

Ada versi lain menyebutkan, sanger berasal dari “sange” atau kata yang merujuk pada rasa kopi dan susu. Kata ini juga popular di tahun 90-an. Terlepas dari berbagai versi tentang asal muasal namanya, sanger kini menjadi minuman paling diminati di Aceh selain kopi hitam.

Sejak 2013, anak muda di Aceh mencetuskan Hari Sanger International atau Sanger Day pada 12 Oktober. Pencetusnya adalah Fahmi Yunus, seorang pekerja kemanusiaan yang juga Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, Banda Aceh. Idenya muncul berawal dari kicauan Fahmi di Twitter pada malam 11 Oktober 2013. Ide Fahmi ternyata disambut baik oleh netizen di Aceh.

Saban 12 Oktober kini diperingati sebagai Sanger Day. Perayaannya digelar dengan minum sanger bersama di lokasi tempat acara dilaksanakan dan berlangsung meriah.

Antusiasme anak-anak muda dalam memunculkan Sanger Day direspon positif Pemerintah Kota Banda Aceh. Dalam ajang Festival Kopi Banda Aceh 2014 silam, Wali Kota Illiza Saaduddin Djamal langsung mengurus hak paten sanger sebagai minuman khas Aceh. Langkah ini dilakukan agar tak ada pihak yang mengklaim hak paten sanger. ***

Editor : Syafruddin
Sumber : detik.com
Kategori : Ekonomi, Banda Aceh, Aceh
www www