Home >  Berita >  Aceh

Mahasiswa Minta Pancung Pemerkosa

Mahasiswa Minta Pancung Pemerkosa
Rabu, 21 Oktober 2015 11:32 WIB
MEULABOH - Gelombang unjuk rasa mendesak polisi menangkap pelaku pemerkosa dan kekerasan seksual terhadap anak kembali terjadi. Kali ini sekitar 50 mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh yang tergabung dalam Gerakan Emergensi untuk Anak Aceh (Getah) melancarkan aksinya di depan Polres Aceh Barat dan gedung DPRK, Sabtu (10/10).
Aksi yang berjalan di bawah pengawalan polisi berlangsung tertib. Massa bergantian berorasi dan menyampaikan aspirasinya melalui bentangan tulisan di spanduk dan kertas karton serta membagikan selebaran. Massa juga meneriakkan yel-yel pancung pemerkosa anak dan mengecam berbagai tindak kekerasan lainnya terhadap anak. “Kami meminta polisi segera menyeret pelaku pemerkosa dan tangkap mereka,” kata Deni, perwakilan pendemo.

Ia menyebutkan kekerasan seksual terhadap anak tidak dapat dibiarkan karena dinilai tidak manusia dan kejam. Seperti kasus yang terjadi di Kecamatan Johan Pahlawan, seorang anak sekolah dasar terpaksa melahirkan bayi dalam usia yang amat belia. Selain mendesak polisi mengungkapkan kasus tersebut, massa juga meminta pemeritah melakukan langkah preventif agar kasus serupa tidak terulang kembali di tengah masyarakat.

Setelah setengah jam berorasi, pendemo kemudian diterima Kapolres AKBP Teguh Priyambodo Nugroho SIK. Aksi serupa berlanjut di depan gedung DPRK, tepatnya di Bundaran Pelor, Meulaboh. Di kawasan itu massa membagikan selebaran kepada pengguna jalan dan meneriakan yel-yel pancung pemerkosa anak.

Ads
Kapolres Aceh Barat AKBP Teguh Priyambodo Nugroho mengatakan sejauh ini polisi masih memburu tiga pelaku pemerkosa anak di Aceh Barat. “Ketiganya sudah masuk dalam daftar pencarian orang. Kami tetap memburu dan memproses pelaku,” katanya saat menerima para pendemo dari mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) yang tergabung dalam Gerakan Emergensi untuk Anak Aceh (Getah) kemarin.

Teguh menyebutkan kasus pemerkosaan anak hingga melahirkan di Johan Pahlawan dilakukan Sulaiman Ahmad (31). Sedangkan pemerkosa anak di Arongan Lambalek dilakukan tiga pelaku yakni Hasbi (20) dan sudah divonis penjara. Sedangkan dua lagi masih DPO yakni Abdul Razak alias Sidat (20) dan Mawardi alias Sito (20).

Sementara itu kasus anak di Kecamatan Woyla, Aceh Barat yang melaporkan ayahnya ke Polsek Woyla sudah diselesaikan secara damai. Sang anak yang duduk kelas VI tersebut sudah mencabut laporan. Ayah dan ibunya juga sudah kembali rujuk setelah beberapa waktu terakhir berpisah.

Kapolres Aceh Barat AKBP Teguh Priyambodo Nugroho melalui Kapolsek Woyla AKP Surianto mengatakan persoalan antara ayah dan anak tersebut hanya berselisih paham. Hal ini juga diakui Herman SH, staf LBH Pos Meulaboh. “Kedua pihak telah menyelesaikan dengan damai dan tidak ada penganiayaan seperti pernah diadukan sang anak,” ujarnya. ***

Editor : Hermanto Ansam
Sumber : tribunnews.com
Kategori : Aceh, GoNews Group, Umum, Aceh Tamiang
www www