Home >  Artikel >  SerbaSerbi

Kata Pengamat, Arahan Nadiem Sulit Diterapkan Guru, Ini Alasannya

Kata Pengamat, Arahan Nadiem Sulit Diterapkan Guru, Ini Alasannya
Mendikbud Nadiem Makarim. (int)
Senin, 25 November 2019 13:51 WIB
JAKARTA - Dalam pidatonya pada peringatan Hari Guru, Senin, 25 November 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim memberikan sejumlah arahan kepada para guru.Namun menurut pengamat pendidikan Indra Charismiadji, sulit bagi guru menerapkan arahan dari Nadiem Makarim tersebut.

''Tantangan terberat bagi guru dalam menjalankan arahan Mendikbud, karena mereka menghadapi atasan mereka yang sayangnya bukan Mas Menteri melainkan kepala daerah,'' ujar Indra di Jakarta, Ahad, 24 November 2019, seperti dikutip dari tempo.co.

Dikatakan Indra, para guru sulit menolak jika kepala dinas pendidikan atau kepala daerah, meminta mereka mengisi dokumen.

Ads
Sebelumnya, Mendikbud Nadiem Makarim dalam pidato tertulis pada peringatan Hari Guru Nasional, 25 November 2019, menyatakan guru merupakan profesi termulia sekaligus yang tersulit.

Tersulit, karena guru ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan. Waktu guru lebih banyak habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.

''Perlu adanya sebuah rencana strategis yang lintas kementerian, lembaga negara, pemerintah daerah, sampai dengan pihak swasta baik sebagai penyelenggara pendidikan maupun yang mendukung program pendidikan,'' kata Indra Charismiadji.

Pelaksanaan solusi tersebut pun harus berupa kolaborasi bersama bukan hanya satu atau dua pihak saja. Kemdikbud bisa ditunjuk Presiden sebagai sektor yang memimpin, tapi implementasi harus kolaborasi dan tidak terbatas anggaran masing-masing, katanya.

Indra juga menambahkan terdapat sejumlah persoalan seperti kekurangan guru, tetapi data Kemdikbud dan Bank Dunia menunjukkan bahwa Indonesia justru kelebihan guru karena memiliki rasio guru yang jauh lebih baik dari Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan lainnya. Begitu juga Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) juga penuh dengan calon guru.

Dari sisi pendapatan, terdapat data menunjukkan bahwa banyak guru yang pendapatannya jauh di bawah upah minimum, tetapi faktanya juga banyak guru yang berpenghasilan belasan bahkan puluhan juta per bulan.

Untuk itu, kata dia, harusnya ada penyelarasan data dengan tingkat urgensi tinggi.

Dari sisi kualitas, hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) sampai sekarang belum ada perkembangan. Hal itu dikarenakan belum adanya proses perbaikan yang jelas.

''Tata kelola guru harus dibenahi, jika Presiden Jokowi memprioritaskan pembangunan SDM unggul dengan ujung tombaknya adalah guru,'' kata dia.***

Editor : hasan b
Sumber : tempo.co
Kategori : SerbaSerbi
www www