Ridwan Saidi Sebut Kerajaan Sriwijaya dan Tarumanegara Fiktif, Begini Tanggapan Sejarawan

Ridwan Saidi Sebut Kerajaan Sriwijaya dan Tarumanegara Fiktif, Begini Tanggapan Sejarawan
Sejarawan JJ Rizal. (republika.co.id)
Kamis, 05 September 2019 06:53 WIB
JAKARTA - Sejarawan Ridwan Saidi menyatakan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaaan Tarumanegara fiktif. Pernyataan Babe, panggilan akrab Ridwan Siadi yang kontroversial itu tayang di channel Youtube.Dikutip dari republika.co.id, menanggapi pernyataan Ridwan Saidi tersebut, ahli sejarah asal Univesitas Indonesia JJ Rizal berharap Ridwan berani mempertanggungjawabkan informasi yang telah dilotarkannya di hadapan ahli sejarah lainnya.

Rizal meminta Ridwan menunjukkan bukti guna menguatkan argumen soal Sriwijaya fiktif. Menurutnya, perlu ada bukti otentik guna mempertentangkan eksistensi Sriwijaya.

''Saya menyarankan mestinya pernyataan pak Ridwan dibuktikan saja lewat metode ilmu pengetahuan. Agar jelas duduk perkaranya bagaimana. Bisa juga Pak Ridwan diajak mempresentasikannya temuannya di hadapan peneliti lain, khususnya yang meneliti Sriwijaya,'' katanya pada Republika, Selasa (3/9).

Ads
Rizal menekankan ilmu sejarah wajib didasarkan pada bukti dan penelitian. Sehingga ia mendorong Ridwan mengadakan forum akademik supaya bisa membuktikan Sriwijaya fiktif. 

''Dan jika pernyataan pak Ridwan terbukti benar, maka ini suatu penemuan baru yang pantas diangkat. Andai juga pernyataannya pak Ridwan keliru sebaiknya bisa dipertanggungjawabkan,'' ujarnya.

Rizal mengungkapkan pernah menjadi bagian dalam pembuktian keberadaan Kerajaan Sriwijaya lewat buku Kedatuan Sriwijaya serta Kebangkitan & Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII. Rizal juga menceritakan sedikit penemuan Sriwijaya. Bukti soal kerajaan itu ditemukan oleh arkeolog Belanda George Coedes pada 1913. 

Coedes menyatakan keberadaan Sriwijaya lewat penelitian terhadap 23 prasasti di Palembang dan Semenanjung Melayu. Temuan Coedes dituangkan dalam esai berjudul ''Le Royaume de Crivijaya'' pada 1918. 

''Teori Coedes itu jadi tumpuan sejarawan dan arkeolog di masa selanjutnya untuk mengungkap lebih banyak tentang Sriwijaya. Bahkan terlahir penelitian yang menemukan Palembang sebagai ibu kota Sriwijaya dan belasan candi sebagai bukti agama Hindu-Buddha pernah berkembang disana,'' jelasnya.

Harus Dibuktikan

Sementara sejarawan Bekasi, Ali Anwar menyebutkan, fiktif atau tidaknya sebuah peninggalan sejarah harus dibuktikan hasil penelitiannya. Jika bisa membuktikan, berarti penelitian sebelumnya menjadi gugur.

''Tapi kalau tidak bisa membuktikan, dia harus mengumumkan ke publik tentang kelemahan penelitiannya, lantas minta maaf,'' kata Ali, Selasa (3/9/2019).

Dia menjelaskan, keberadaan Kerajaan Tarumanegara sebelumnya sudah diteliti oleh para ahli arkeologi dan ahli filologi seperti Slamet Mulyana dan Hasan Jafar.

Sementara, Prasasti Tugu yang ada di Cilincing, Jakarta Utara, (sebelum 1976 Cilincing masuk wilayah Bekasi) sudah dibaca ahli filologi UI Poerbatjaraka. Poerbatjaraka mengatakan di sana ada nama Purnawarman dan Kali Chandrabaga.

''Saya tidak mengatakan si A fiktif dan si B non-fiktif, tapi saya lebih percaya kepada ahlinya. Apalagi seperti Hasan Jafar yang meneliti puluhan tahun Tarumanegara di Kompleks Percandian Batujaya, Karawang,'' ujar Ali.

Ada Kekeliruan

Sebelumnya, pernyataan Kerajaan Sriwijaya fiktif yang dilontarkan Ridwan di saluran Youtube sempat ramai diperbincangkan. Ridwan menyampaikan sejumlah alasan mengapa ia menganggap kerajaan Sriwijaya sebagai fiktif. Ridwan menyebut bahwa Kerajaan Sriwijaya hanyalah bajak laut. 

Sedangkan Kerajaan Tarumanegara disebutnya fiktif didasarkan adanya kekeliruan penerjemahan bahasa sehingga tidak ada bukti kuat mengenai keberadaan Kerajaan Tarumanegara.

Untuk diketahui, Bekasi disebut-sebut pernah menjadi ibu kota Kerajaan Tarumanegara. Jejak sejarah kejayaan Tarumanegara di Bekasi tercatat dalam Prasasti Tugu yang ditemukan di daerah Tugu, Cilincing, Jakarta Utara.

Prasasti itu menyebut perintah Raja Purnawarman untuk menggali Kali Candrabhaga atau Kali Bekasi yang bertujuan untuk mengairi sawah dan menghindar dari bencana banjir yang kerap melanda wilayah Kerajaan Tarumanegara.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww