Home >  Artikel >  SerbaSerbi

Umat Islam di Melbourne Shalat Id dalam Cuaca 4 Derajat Celcius

Umat Islam di Melbourne Shalat Id dalam Cuaca 4 Derajat Celcius
Ratusan umat Islam Shalat Idul Adha 1440 H di aula Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Queens Street, Melbourne, Australia, Ahad (11/8) pagi. (republika.co.id)
Minggu, 11 Agustus 2019 09:34 WIB
MELBOURNE - Lebih 200 umat Islam melaksanakan Shalat Idul Adha 1440 H di aula Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Queens Street, Melbourne, Australia, Ahad (11/8) pagi.Dikutip dari republika.co.id, Shalat Idul Adha yang ditunaikan dalam cuaca dingin, 4 derajat celcius itu, dimulai pukul 08.00 waktu setempat ( pukul 05.00 WIB).

Khotib Ustaz Nuim Khaiyath. Dalam khotbah sekitar duapuluh menit, khotib menguraikan Islam sebagai agama pembawa kedamaian. Tidak ada satu pun agama di dunia yang diberinama langsung oleh Allah SWT, kecuali Islam. Islam sendiri dari kata Salam, artinya: keselamatan, kedamaian. ''Prilaku di luar itu, bukan ajaran agama Islam,'' tandasnya.

Mengutip khotbah Rasulullah sewaktu menunaikan haji, Nuim menegaskan konsep dasar hak asazi manusia berasal dari Rasulullah. Ini diperkuat oleh seorang professor yang mengajar di Monash Australia dalam sebuah bukunya tentang Islam. Sang professor menggarisbawahi khotbah Rasulullah itu sebagai konsep awal tentang HAM yang disampaikan lebih 1400 tahun lalu.

Ads
Bukan hanya kepada sesama manusia, ajaran Rasulullah juga mencakup konsep kasih sayang kepada seluruh mahkluk hidup. Nuim menceritakan kisah di zaman Rasulullah. Nabi bertemu seorang yang sedang menuntun keledai. Hewan itu hendak diberi tanda di wajahnya dengan besi panas. Rasulullah mengingatkan supaya tanda seperti itu jangan diwajah keledai, sebaiknya di pantatnya saja. Peristiwa itu lebih seribu empatratus tahun lalu. Secara universal kita semua mengikuti itu.

''Sekarang perhatikan sapi-sapi dalam film Amerika. Cap sebagai penanda diletakkan di pantat sapi,'' terang Nuim.

Ustadz Asal Medan

Ustadz Nuim Khaiyath (nama lengkapnya: Nuim Mahmud Khaiyath) adalah seorang penyiar senior kelahiran Medan, Indonesia yang saat ini berdomisili di Melbourne, Australia. Dia kini menjadi Kepala Siaran Bahasa Indonesia di Radio Australia.

Nuim Khaiyath memulai kariernya di bidang jurnalistik pada 1964 dengan bekerja di BBC'S Indonesian Service yang berpusat di London selama tiga tahun. Ia kemudian bergabung dengan Radio Australia Siaran Bahasa Indonesia (RASI) pada 1967-1970. Setelah itu ia pindah ke BBC London. Dua tahun kemudian (1972) ia kembali lagi ke RASI, dan sejak tahun 1998 ia dipercaya untuk memimpin RASI.?

Ia populer dengan acara Sabtu Gembira (SAMBA), yang dibawakan dengan logat Melayu Medan. Acara tersebut disiarkan pula oleh Radio Delta FM setiap hari Sabtu pagi. Acara lain yang diasuhnya di RASI adalah PERSPEKTIF, dan Dunia Olahraga. Selain itu dia juga tampil dalam siaran lite 105.8 FM Jakarta, setiap Senin pagi dalam acara Postcard from Melbourne. Pengetahuannya yang luas membuatnya sangat populer di kalangan pendengar radio tersebut, sehingga ia mendapat julukan ''Kamus Berjalan''.

?Aktivitas rutin yang dilakukannya di luar siaran radio adalah berenang, membaca, dan khotib.?

Nuim telah menerbitkan sebuah buku baru ''Dunia di Mata Nuim Khaiyath''. ***

Editor : hasan b
Sumber : republika.co.id
Kategori : SerbaSerbi
www www