CERPEN

Insiden Aktivis

Insiden Aktivis
Ilustrasi
Minggu, 16 April 2017 08:36 WIB
Penulis: Lail Khair EL Rasyid

Pagi itu udara sejuk sekali dan agak dingin. Ademlah.

Tiga orang aktivis yang katanya militant sejati, siap berangkat menuju markas mereka. Karena diburu waktu, mereka agak tergesa-gesa, sehingga tidak menyadari jika tas punggung ala mahasiswa milik salah seorang dari mereka tersangkut di pintu.


Alhasil, tas jadi sobek di bagian depan dan berhamburanlah isinya. Wow, ada buku kuliah, pulpen, penggaris, hapusan pensil, duit receh yang ditaruh sekenanya. Dan, apa itu? Sebuah benda kecil terbungkus sampul biru. Hm, sebuah mushaf.

Spontan si aktivis tersebut merapikan kembali. Dan diapun bermaksud mengganti tasnya dengan tas yang lain. Cari sana sini, tas yang dimaksud tidak diketemukan. Hanya ada sebuah tas wanita milik adiknya yang belum sempat dikembalikannya ke kos-kosannya. Tas mungil warna pink. O o o o .... impossible. Jika dipadu dengan postur yang rada-rada tipis, mungkin memungkinkan. Tapi jika dipadu dengan jenggot tipis di dagu, sama sekali tidak memungkinkan. Apa kata dunia nanti?

Dua rekan aktivis lainnya memberikan motivasi agar dia memakai tas tersebut karena memang tidak ada tas yang lainnya. Terjadilah dialog yang serius. Aktivis pertama keukeuh melobi aktivis ke dua agar mendukungnya untuk terus meyakinkan aktivis ke tiga. Karean deadlock, akhirnya dilakukan votting. Dua lawan satu. Otomatis aktivis ketiga menerima keputusan dengan pasrah namun diliputi was-was. Akhirnya perjalanan ke markas dimulai.

Ads
Naik angkot, turun angkot. Naik becak........ eh ngggak, jalan kaki aja. Biasanya juga kuat jalan berkilo-kilo jika lagi demo. Yap! Keputusan jitu udah diambil. Jalan kaki ke markas. Hanya satu kilo dari jalan raya, kok. Mereka tetap dengan semangat demonstran sejati meluncur ke markas mereka.

Hap! Aktivis ke tiga terpeleset masuk got. Tapi untungnya selamat. Baju koko putih tidak ditaburi tinta hitam ala got. Cuma ..... tas kecil warna pink telah menyebur dengan sukses. Sedikit panik, memang. Namun aktivis ke tiga mencoba bersabar karena sudah mengalami dua kali ujian kesabaran. Batinnya, seorang aktivis sejati harus kuat melawan goda, termasuk godaan untuk meluapkan emosi. Sambil istighfar, tas kecil warna pink diraihnya lalu ditenteng terus menuju markas. Warnyanya berubah hitam. Biar di cuci di markas saja. Dia sudah mendisainnya dalam agenda ”cuci-cuci.”

Sampai di markas, aktivis lain sudah menunggu dengan harap-harap cemas, karena aktivis ke dua sempat SMS jika mereka bertiga mengalami kecelakaan kecil. Alhamdulillah.... Itulah ucapan yang lainnya saat melihat kemunculan mereka bertiga. Aktivis ke tiga langsung menuju kamar mandi untuk melaksanakan agendanya. Aktivis yang lain mengikuti dengan ekor mata masing-masing. Begitu aktivis ke tiga mengguyurkan air ke benda yang sudah berubah jadi warna hitam itu, terdengar ledakan tawa dari belakang punggungnya. O o o o..... apa yang dikhawatirkannya akhirnya terjadi.

(kupersembahkan buat saudara-saudaraku di BOM PAI & PH PPKM Al Asy’ari, Unisba)


Biodata Penulis

Lail Khair EL Rasyid, wanita berdarah Minang ini pernah menjadi pembicara pada beberapa pelatihan Jurnalistik. Pernah menjadi sutradara di beberapa Pagelaran Seni Islam di Kota Padang dari sebuah EO (event organizer) yang dikelolanya. Beberapa cerpen pernah dimuat di media cetak daerah dan nasional. Diantaranya; Semilir Angin Masjid Surau Gadang (Singgalang), Ku Mohon Ampunan Mu (Serambi Minang), Belenggu Sumpah (Serambi Minang), Perjalanan Seorang Nene (Majalah Al Izzah/ Jakarta), Istriku Seorang Detektif (Majalah Al Izzah/Jakarta), Mendung Tak Selamanya Kelabu (cerbung, Majalah TASBIH), penulis pada antalogi 4 Catatan Harian Minus Kata Syukur (2008), Keong-Keong Malin Kundang (Leutika Pro/Jogjakarta). Hingga saat ini, Lail aktif menulis cerpen bertemakan sosial serta puisi cinta. Baginya, cinta adalah topik yang tidak pernah habis-habisnya.

Email: lailkhair92@gmail.com

Facebook; Lail khair El Rasyid.  


Kategori:SerbaSerbi
wwwwww