Home >  Artikel >  SerbaSerbi

Piala Eropa, Muhammad Ali, dan PSSI

Piala Eropa, Muhammad Ali, dan PSSI
Piala Eropa, Muhammad Ali dan PSSI [bola.com].
Jum'at, 10 Juni 2016 11:48 WIB
JAKARTA - Alam rasa. Kosakata itu terkadang menjadi bagian dari sepak bola. Di balik olahraga indah tersebut, sering kali terselip berbagai inspirasi kehidupan dari perjuangan serta kegigihan 22 manusia yang saling bersaing demi meraih kemenangan di atas lapangan.Kalah, menang, tangis dan tawa, adalah hasil akhir yang terjadi dalam drama bernama sepak bola. Sebentar lagi, kita pun akan kembali menyaksikan momen-momen istimewa itu melalui pesta akbar bernama Piala Eropa.

Pada Jumat atau Sabtu (11/6/2016) dini hari WIB, kemegahan Menara Eiffel akan mulai diselimuti semangat dari jutaan suporter 24 negara peserta. Kedatangan mereka tentu tak hanya untuk memberi dukungan, tetapi juga membawa harapan besar menyaksikan permainan gemilang.

Franklin Foer, dalam karyanya How Soccer Explain the World (2004), menuliskan, bagi masyarakat dunia, pesta sepak bola juga adalah upaya menyatukan semua orang. Tak peduli status sosial, usia, atau bahkan status darurat negara akibat bencana, jika bicara sepak bola, kita memang seperti tak kuasa menahan gejolak rasa.

Ads
Toh, gejolak rasa berasal dari sifat alami manusia. Lihat saja bagaimana suporter hingga para sepak bola tetap antusias, meski berbagai aksi teror terus menghantui persiapan Piala Eropa. Mulai dari tragedi berdarah di Paris pada November 2015, hingga aksi teror di Brussels, Belgia.

Bayangkan seperti apa kengerian para pemain Prancis dan Jerman, ketika serangan para terduga teroris terjadi hanya berjarak beberapa meter dari tempat mereka berpijak di atas rumput Stade de France, Saint-Denis. Bayangkan pula hujan air mata para keluarga korban yang membuat hati kita terasa kian teriris.

Namun, gejolak rasa ternyata membuat sepak bola terus bergulir. Bencana pun tak mampu menghadangnya. Di tengah duka cita mendalam, pecinta sepak bola tetap berharap Piala Eropa 2016 digelar. Mereka bahkan sempat was-was, jangan-jangan akibat aksi teror, penyelenggaraan Piala Eropa akan molor.

"Orang-orang akan menuju ke sana (Prancis) dan membuat pernyataan, kami tidak akan takut. Apa yang terjadi di Paris dan Belgia, juga terjadi di seluruh dunia. Anda bisa melihat kepedulian antar sesama yang begitu luar biasa. Inilah sisi kemanusian sepak bola," ujar legenda Prancis, Thierry Henry.

Ali
Satu pekan sebelum Piala Eropa bergulir, dunia olahraga sempat kembali diselimuti kabar duka. Namun, bukan karena bencana, melainkan petinju legendaris, Muhammad Ali, meninggal dunia pada usia 74 tahun, akibat penyakit komplikasi parkinson, di Scottsdale, Arizona.

Semasa hidup, Ali dianggap representasi olahragawan sejati. Petinju yang memiliki nama lahir Cassius Marcellus Clay itu dikenal sebagai 
petarung yang berjuang demi prestasi di atas ring dan keadilan di atas masalah segregasi warga kulit hitam di AS, pada era 1960-an.

Maklum, bagi Ali, tinju bukan hanya olahraga biasa, melainkan juga sebagai bentuk gejolak alam rasa yang dapat melampaui segala batas, hingga ke persoalan hak asasi manusia dan ras. Atas dasar itulah ia sempat menolak program wajib militer tentara AS untuk perang ke Vietnam.

Editor : Kamal Usandi
Sumber : bola.com
Kategori : SerbaSerbi
www www