Pandangan Islam atas Teologi Paskah

Pandangan Islam atas Teologi Paskah
Ilustrasi
Jum'at, 19 Mei 2017 11:10 WIB
Paskah adalah perayaan umat Kristen seluruh dunia yang memperingati kewafatan dan kebangkitan Yesus Kristus - sebuah peristiwa yang mereka yakini sebagai sarana keselamatan mereka.Islam tidak mengenal paskah, tetapi Islam meyakini akan kebenaran Yesus sebagai utusan Allah (nabi) yang benar, yang diutus oleh Allah taala kepada suku Bani Israel. Bahkan Islam mengajarkan untuk meyakini Nabi Isa dan kitabnya. Allah taala berfirman:

Ketika berkata malaikat-malaikat, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah swt. memberi engkau kabar suka dengan  satu kalimat dari-Nya tentang seorang anak laki-laki; namanya Al-Masih sa Ibnu Maryam, yang dimuliakan di dunia dan di akhirat, dan ia adalah dari antara orang-orang dekat kepada Allah swt.. (Ali Imran: 45)
Tetapi pemahaman Islam berbeda terhadap apa yang diyakini oleh Kristen saat ini. Islam, tidak percaya bahwa Yesus adalah Anak Tunggal Allah secara literal, melainkan hanya sebagai Anak Tuhan secara metaforik yang mencerminkan kualitas kesalehan.

Pada Paskah, umat Islam juga tidak setuju tentang tujuan dan hasil dari penyaliban, bahwa Yesus wafat di tiang salib dan dibangkitkan untuk menebus dosa-dosa manusia. Islam menyajikan perspektif yang berbeda.

Yang pertama adalah dalam tujuan penyaliban. Dalam kepercayaan Kristen, tujuan penyaliban adalah untuk menebus dosa-dosa manusia, sedangkan Islam meyakini bahwa tujuan penyaliban adalah sebagai bentuk kebenaran tanda kebesaran Tuhan. Bahwa dengan selamatnya Yesus dari penyaliban akan memperkuat keimanan kepada Tuhan yang telah menyelamatkannya. Keyakinan ini didukung oleh nubuatan Yesus sendiri:

Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. (Matius 12:40)

Muslim meyakini bahwa penyaliban itu bukan tentang kebangkitan dari kematian (revival) melainkan selamat dari kematian (survival).

Dengan demikian, hal kedua dari perbedaan ini adalah, sebagai seorang utusan Tuhan yang benar, Yesus tidak mungkin dibunuh di kayu salib oleh para musuhnya. Umat Islam meyakini kematian di tiang salib adalah kematian terkutuk menurut Alkitab (Ulangan 21:23). Islam percaya bahwa Yesus menyamakan dirinya dengan Yunus, bahwa sebagaimana Yunus selamat dalam perut ikan, maka begitu juga Yesus  juga selamat dari penyaliban.

Al-Qur'an menegaskan pandangan ini dengan menyatakan bahwa Yesus diselamatkan dari kematian dan dilindungi oleh Allah taala:

Dan ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah swt.,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula mematikannya di atas salib, akan tetapi ia disamarkan kepada mereka. Dan, sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan tentang ini; mereka tidak mumpunyai pengetahuan yang pasti  tentang ini melainkan menuruti dugaan; dan mereka  tidak membunuhnya  dengan yakin. (Annisa: 157)
Ads

Kami  meyakini bahwa Yesus, menghadapi segala rintangan, dan selamat dari cobaan di tiang salib karena keajaiban besar dari Allah taala, sehingga hal itu memenuhi nubuatannya tentang Yunus. Upaya para lawan dengan penyaliban sama sekali gagal dan misi Yesus berlanjut dengan sukses, meskipun ada upaya-upaya penganiayaan untuk mengalahkan Yesus.

Tetapi sementara Kristen dan Muslim mungkin tidak sependapat pada rincian Paskah, terdapat juga kesamaan dalam keyakinan kita. Yaitu Allah taala secara khusus telah mengutus Yesus, Almasih sebagai saksi kebenaran Allah. Terlepas dari perbedaan kita, umat Islam menghormati saudara-saudara Kristen dalam merayakan Paskah, dan merasakan kecintaan yang sama terhadap Nabi Isa ibnu Maryam.

Editor:Yovi Ansari
Sumber:Berbagai Sumber
Kategori:Ragam
wwwwww