Kenapa Rusia Paling Banyak Terdampak WannaCry?

Kenapa Rusia Paling Banyak Terdampak WannaCry?
Ilustrasi
Kamis, 18 Mei 2017 18:50 WIB

MOSCOW - Perangkat pemeras (ransomware) yang dikenal dengan nama WannaCry telah menyerang banyak komputer bersistem operasi Windows di seluruh dunia. Pada 12 Mei, hari pertama serangan, korban paling banyak berasal dari Rusia. Hal ini dikarenakan orang-orang Rusia tidak membarui perangkat lunak mereka secara berkala.

Pada 12 Mei, setidaknya 200 ribu orang di dunia (menurut data dari Europol) terkena serangan peretasan dari sebuah virus yang disebut WannaCrypt atau WannaCry di komputer mereka. Pola peretasannya tidak biasa: virus tersebut mengenkripsi semua data di komputer, lalu akan muncul tulisan di layar yang menyatakan bahwa sang pemilik komputer dapat memiliki datanya kembali jika mereka membayar 600 dolar AS (8 juta rupiah) dalam bentuk Bitcoin (mata uang virtual).

Serangan siber itu berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Menurut data yang dipublikasikan pada 15 Mei, pengguna internet di 150 negara terkena virus tersebut; tapi hanya komputer dengan sistem operasi Microsoft Windows yang menjadi korban. Per 15 Mei, para peretas di balik virus tersebut telah berhasil membuat para korban membayar 50 ribu dolar AS.

loading...
Orang di Rusia paling banyak terkena WannaCry dibandingkan negara-negara lain. Menurut laporan Kaspersky Lab, pada 12 Mei lebih dari setengah jumlah orang yang komputernya diretas berlokasi di Rusia. MegaFon, salah satu operator jaringan seluler, juga diserang: call center dan sejumlah retail mereka berhenti bekerja selama beberapa jam. Setelah itu, perusahaan tersebut mengatakan bahwa situasinya telah kembali normal.

Kepolisian Rusia juga diretas: WannaCry menyerang sejumlah komputer kepolisian dan pada 13 Mei, unit kepolisian di beberapa daerah tidak dapat menerbitkan SIM atau STNK. Di malam hari yang sama, kepolisian mengumumkan bahwa masalah tersebut telah diatasi. Juru Bicara Kepolisian Rusia mengatakan bahwa sekitar seribu komputer terkena peretasan, meski pun jumlah itu tidak lebih dari 1 persen perangkat lunak yang digunakan kepolisian.

Banyak perusahaan dan badan resmi yang melaporkan bahwa mereka juga terkena virus, namun dampaknya tidak besar karena spesialis mereka mampu mengatasinya. Beberapa yang terkena serangan siber tersebut adalah Russian Railways, Kementerian Kesehatan Rusia, dan Sberbank.

Editor:TAM
Sumber:indonesia.rbth.com
Kategori:Ragam
wwwwww