Heboh Pemuda Desa Nikahi Dua Wanita Sekaligus

Heboh Pemuda Desa Nikahi Dua Wanita Sekaligus
Ardiansyah naik pelaminan dengan dua wanita sekaligus di Dusun V, Desa Kasmaran, Kecamatan Babat Toman. [Yudhi/Sumeks/JPNN]
Rabu, 17 Mei 2017 09:52 WIB

MUSI BANYUASIN - Sosok Ardiansyah bikin heboh di dunia virtual. Fotonya yang menggandeng dua wanita ke pelaminan sekaligus menjadi viral. Pemuda desa nikahi dua wanita sekaligus yang karib disapa Ardi ini merupakan warga di Dusun V, Desa Kasmaran, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Mengenakan batik warna kuning plus kopiah, Ardi–begitu pria bernama lengkap Ardiansyah di sapa–terlihat gagah diapit dua orang istrinya tadi malam. Kedua wanita yang merebut hati pria yang berprofesi sebagai petani itu, tak lain, Pegi Melati Sukma (20) dan Ria (25).

Pacar warna merah terlihat di kuku jari jemari mereka. Senyum juga selalu menghiasi bibir ketiganya. Namun, mereka tak bisa menutupi kecanggungan satu sama lain. Sekilas Pegi lebih atraktif dibandingkan dengan Ria.

loading...
“Ya…beginilah kalau cinta,” ujar Pegi kepada Sumatera Ekspres yang mengunjungi kediamannya, di Dusun V, Desa Kasmaran, Kecamatan Babat Toman, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, pukul 20.00 WIB, Selasa (15/5/2017).

Kunjungan itu, adalah yang kedua kali. Berbeda dengan kedatangan Sumatera Ekspres pertama kali sekitar pukul 15.30 WIB. Saat itu, warga tak terlalu heboh. Nah, pada kedatangan kedua justru di rumah Ardiansyah banyak kedatangan tamu.

Maklum saja, pasangan yang dijuluki Two in One itu, sedang menjadi perbincangan hangat. Baik di media sosial, di desa, maupun Kabupaten Musi Banyuasin. Hanya, Ardi seolah terpengaruh. “Kami yang jalani hidup ini. Keluarga juga mengizinkan,” ungkap Ardi sembari tersenyum. Kaget juga jadi heboh seperti sekarang,” tambahnya lagi.

Tak hanya di Sumatera Selatan, ada juga penelpon dari Bandung yang menanyakan kebenaran pernikahan tersebut. “Ya, faktanya memang seperti ini. Kami saling mencintai,” tukas Ardi yang menerima wartawan Sumeks Online di ruang tamu rumahnya semipermanen dari kayu sekitar 5×4 meter persegi.

Di desanya, Ardi bukan pemuda yang tergolong kaya. Sehari-hari berprofesi sebagai petani karet. Penghasilan sekitar Rp900 ribu per bulan. Dia selama ini menjadi tulang punggung keluarga. Menghidupi ibunya Yusmiati dan keempat adiknya. Ayahnya, Asri (alm) empat tahun lalu sudah meninggal dunia.

“Sejak itu, saya yang memikul tanggung jawab keluarga. Nah, sekarang tambah dua istri,” kata pria yang tidak tamat sekolah dasar itu, sembari mengumbar senyum. Tapi, Ardi berjanji dia akan adil. Menafkahi kedua istrinya baik secara lahir maupun batin. “Kalau sehari dapat Rp10 ribu, ya terpaksa istri diberi masing-masing 3 ribu. Sisanya buat keluarga,” kata Ardi tanpa malu.

Selain soal ekonomi, Ardi juga terus terang kalau mereka berbagi tempat di tempat tinggal yang dia sebut gubuk. “Karena rumah sempit dan tamu masih ramai, jadi belum sempat malam pertama, Mas,” katanya malu-malu.

Kok nekat nikahi dua wanita sekaligus? Ditanya demikian Ardi terdiam. “Namanya jodoh,” tukasnya. Pegi dan Ria bukan wanita satu desa dan sebelum hidup satu rumah, keduanya tidak saling kenal sama sekali.

Editor:TAM
Sumber:JPNN
Kategori:Ragam
wwwwww