Di Beijing, Jokowi Tawarkan Tiga Megaproyek ke Cina

Di Beijing, Jokowi Tawarkan Tiga Megaproyek ke Cina
Penandatangan kerja sama di Beijing, Minggu (14/5/2017). [Ist]
Senin, 15 Mei 2017 09:25 WIB

BEIJING - Presiden Joko Widodo menawarkan kerja sama pembangunan tiga megaproyek kepada Presiden Cina, Xi Jinping, di sela-sela pertemuan jalur sutra modern atau belt and road yang digagas Cina di Beijing, pada Minggu (14/5/2017).

Ketiga megaproyek itu, menurut Presiden Jokowi sebagaimana dilansir kantor berita Antara, meliputi pembangunan di Sumatera Utara, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Utara.

Di Sumatera Utara, Presiden Jokowi menawarkan kesempatan berinvestasi pada pembangunan fasilitas Pelabuhan Kuala Tanjung dan akses jalan dari Kota Medan hingga Sibolga. Kemudian di Sulawesi Utara, terdapat rencana peningkatan infrastruktur di Bitung-Manado-Gorontalo dengan membangun akses jalan, jalur kereta api, pelabuhan, serta bandara.

Adapun di Kalimantan Utara, Presiden Jokowi menawarkan peluang kerja sama investasi proyek infrastruktur energi dan pengembangan pembangkit listrik.

Ads
Seperti dikutip biro pers Istana, Presiden Jokowi mengatakan ingin menciptakan momentum segar terutama untuk kerja sama Cina-Indonesia dalam rangka one belt one road.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi usai pertemuan mengatakan kepada wartawan bahwa beberapa proyek kemungkinan dapat dikerjasamakan dalam konteks inisiatif belt and road.

"Namun Presiden Jokowi mengatakan bahwa Indonesia terbuka bekerja sama dengan pihak manapun dengan prinsip-prinsip yang saling menguntungkan dan bermanfaat bagi rakyat, serta mengutamakan kerja sama yang sifatnya Public Private Partnership," ucap Retno.

Belt and Road Initiative secara harfiah berarti 'Inisiatif Sabuk dan Jalan'. Namun, yang dimaksud pemerintah Cina adalah sebuah koridor ekonomi yang menghubungkan Cina dengan berbagai kawasan di dunia.

Seperti jalur sutera, 'sabuk' adalah serangkaian jalur darat dari Cina ke Eropa melalui Asia Tengah dan Timur Tengah. Adapun 'jalan' adalah rute laut yang menghubungkan laut bagian selatan Cina ke perairan di sebelah timur Afrika dan Mediterania.

Untuk mewujudkan beragam proyek infrastruktur di sepanjang koridor jalur sutera modern itu, Presiden Xi Jinping menyatakan pemerintah Cina akan menanam modal sebesar US$124 miliar. Langkah Cina tersebut dipandang sebagai strategi untuk merebut pengaruh di dunia.

"Perebutan pengaruh sedang terjadi, tapi tidak dalam arti frontal. Kekuatan Cina meningkat luar biasa. Cina menawarkan alternatif untuk menghubungkan negara dengan dalih itu adalah kerja sama yang menguntungkan semua pihak, walau keuntungan lebih besar ada pada Cina," kata Tirta Mursitama, ketua departemen hubungan internasional Universitas Bina Nusantara, Jakarta, kepada BBC Indonesia.

Sebelum Indonesia dipastikan memperoleh investasi dari Cina, Tirta mengingatkan agar pemerintah Indonesia menggencarkan negosiasi yang gigih mengingat Cina dinilai menginginkan keuntungan besar dalam konteks bisnis maupun politik. "Kita mungkin mendapatkan sesuatu, tapi tidak dengan harga yang murah. Pasti mereka minta tradeoff (timbal balik). Masalahnya, seberapa besar yang kita bisa tawarkan?" kata Tirta.

Selain menawarkan kerja sama pembangunan tiga megaproyek, Presiden Jokowi dan Presiden Xi menyaksikan penandatanganan dokumen kerja sama yaitu implementasi kemitraan komprehensif strategis Indonesia-Cina pada 2017-2021.

Penandatanganan dokumen kerja sama kedua yaitu Kerja Sama Ekonomi dan Teknik Cina-Indonesia yang ditandatangani oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro dengan Menteri Perdagangan Cina, Zhong Shan.

Kemudian kerja sama ketiga yaitu fasilitasi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ditandatangani oleh Direktur Utama PT KCIC Hanggoro dengan Direktur Utama Bank Pembangunan Nasional Cina, Hu Huaibang, dengan nilai komitmen kerja sama sebesar US$4,498 miliar.

Editor:TAM
Sumber:bbc.com
Kategori:Ragam
wwwwww