Teguh: SMSI Ingin Memperpanjang Daftar Putih Pemerintah

Teguh: SMSI Ingin Memperpanjang Daftar Putih Pemerintah
World Press Freedom Day 2017
Senin, 01 Mei 2017 22:18 WIB
JAKARTA - Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) dibentuk untuk membantu pemerintah memperpanjang daftar putih. Caranya dengan mengajak media siber di seluruh Indonesia, tidak hanya di Jakarta.Begitu dijelaskan Ketua Umum SMSI Teguh Santosa saat konferensi pers di sela ajang World Press Freedom Day 2017 di Jakarta Convention Center, Senayan (Senin, 1/5/2017).

Teguh pun menceritakan ketika Tifatul Sembiring menjadi menteri komunikasi dan informatika, begitu banyak media siber terutama yang mempromosikan pornografi, dijagal. "Di era Pak Rudiantara ada sedikat perubahan terhadap kebebasan pers, punya pendekatan berbeda," katanya menanggapi pertanyaan seputar SMSI.

"Kalau kita sibuk membuat black list (daftar hitam) kemampuan kita menahannya tidak lebih kuat. Perkembangan media siber begitu cepat. Alih-alih membuat black list lebih baik buat white list (daftar putih) artinya memperbanyak media berbasis internet yang membawa pesan positif," ulas Teguh mengutip ucapan Rudiantara.

Teguh melanjutkan, gairah membuat media siber tidak hanya di Jakarta, tapi di daerah hingga tingkat daerah juga luar biasa. "Ini sesuatu yang disyukuri juga bahwa wacana di negara tidak didominasi di Jakarta," ujarnya.

Teguh bercerita baru-baru ini berkeliling ke beberapa daerah. Pemilih dan pengelola media siber di sana mengatakan kepadanya ada dua lawan yang dihadapi mereka. Pertama, perusahaan digital global seperti facebook dan twitter. Kedua, jaringan media nasional yang punya kuku hingga ke daerah.

"Jaringan media nasional ini harus dihadapi bukan dengan melarang tapi dengan membantu media-media lokal mereka punya kemampuan kurang lebih sama dengan media nasional," ujar Teguh yang juga pengajar Resolusi Konflik di Universitas Islam Negeri Jakarta.

SMSI, jelas Teguh, ingin mengajak media siber se-Indonesia untuk mendirikan perusahaan media profesional baik secara ekonomi maupun bisnis juga mempromosikan info karya jurnalistik yang bagus dan konstruktif.

Dia juga menyebutkan bahwa semangat berhimpun di antara para pengelola media siber sebetulnya sudah muncul sejak tahun 2005. Dia bersama media-media siber se Jakarta pernah mendirikan Indonesia Online Media Syndicate (IOMS) namun tidak berkembang. Begitu pula nasib Asosiasi Media Digital Indonesia.

Meski begitu, semangat menjadi media profesional tetap ada bahkan semakin tinggi ketika beberapa bulan lalu diumumkan  77 media siber yang masuk verifikasi Dewan Pers dan ke depan akan bertambah.

"Akhirnya lahirlah SMSI yang dideklarasikan 17 April kemarin di tempat Jaya Suprana, Pusat Studi Kelirumologi. Sengaja dipilih di situ supaya tidak ada kekeliruan di antara kita," kata Teguh berseloroh.  

Belakangan, dia berpikir bahwa SMSI justru sejalan dengan gagasan Presiden Jokowi tentang membangun dari pinggir.  

"Pak Dahlan dan teman-teman membuat media cetak di daerah juga terjadi ruang publik di daerah yang kita tidak pernah dengar namanya sebelumnya tetapi orang-orang yang ada di daerah, di Jakarta atau orang di Pulau Sumatera misalnya, tidak akan mudah mengakses infomasi lokal dari sebuah kabupaten di Jawa atau kabupaten di Kalimantan, tetapi dengan dunia internet sebuah persoalan yang dibicarakan masyarakat lokal dapat tempat ruang pulbik yang lebih luas," paparnya.

Dia optimistis jika semua potensi masalah di daerah disampaikan dengan cara-cara baik dan profesional maka gagasan Indonesia sentris bisa terwujud. Ini harapan lain berdirinya SMSI agar ada proteksi terhadap media-media lokal. "Media sehat ekonomi bisa tumbuh," cetusnya.

Saat ini, imbuh Teguh, tengah dan sudah disusun kepengurusan SMSI di 28 provinsi. SMSI juga telah didaftarkan notaris pada 21 Maret 2017 lalu
Ads
Editor:TAM
Sumber:rmol.co
Kategori:Ragam
wwwwww