Referendum Turki Telan Korban, Tiga Orang Tewas

Referendum Turki Telan Korban, Tiga Orang Tewas
Seorang wanita Turki saat memberikan hak suaranya pada referendum, Minggu (16/4/2017). [FoxNews]
Minggu, 16 April 2017 22:29 WIB

ANKARA - Pelaksanaan referendum di Turki yang dilaksanakan hari ini, Minggu (16/4/2017) telah usai. Referendum untuk memutuskan perluasan kekuasaan presiden ini membawa tiga korban warga Turki yang meninggal akibat menolak menggunakan hak suaranya.

Lebih dari 55,3 juta penduduk memberikan suara dalam referendum yang jika disetujui, akan memberikan Presiden Recep Tayyip Erdogan kekuatan yang lebih besar dari semua pemimpin Turki yang pernah ada. Bahkan sejak pendiri negeri tersebut, Mustafa Kemal Ataturk dan penggantinya, Ismet Inonu.

Dari sekitar 50 persen surat suara yang masuk dan sudah dihitung, warga yang menyatakan "Ya" mencapai 58 persen dan "No" pada sekitar 42 persen. Tapi hasil itu belum final dan belum mewakili suara seluruh negeri.

Pendukung Erdogan mengatakan akan mengganti sistem parlementer yang berjalan selama ini dengan memberikan kekuasaan presiden sebagai eksekutif yang lebih luas untuk memodernisasi negara.

Ads
Namun dalam pelaksanaan referendum dari tadi pagi, tiga warga Turki dinyatakan tewas yang ditembak mati di dekat sebuah TPS di provinsi selatan-timur Diyarbakir.

Menurut DI haber, di sebuah desa Yabanardi 3 orang yang tertembak tersebut adalah Avdo Y'ldz, Olu Eymus dan Idris Yldz yang akhirnya tewas dibunuh setelah mereka memperingati saudaranya (pro-AKP) untuk tidak menggunakan hak pilihnya.

Jika referendum disetujui, sistem presidensial yang baru akan menghapus jabatan perdana menteri (PM) dan memusatkan seluruh birokrasi eksekutif di bawah presiden.

Sistem yang berlaku setelah pemilihan umum (pemilu) pada November 2019 ini juga akan memberikan Erdogan kuasa untuk menunjuk menteri kabinetnya.

Erdogan yang menjadi presiden pada 2014 setelah menjabat sebagai PM sejak 2003 ini juga akan dapat mencalonkan diri sebagai presiden untuk dua kali masa jabatan.
Pihak oposisi mengkhawatirkan hasil referendum jika memenagkan 'Yes" akan menyebabkan Turki menjadi negara otoriter.

Editor:TAM
Sumber:mediaindonesia.com
Kategori:Ragam
wwwwww