Tiongkok Masih Eksekutor Terbesar Hukuman Mati

Tiongkok Masih Eksekutor Terbesar Hukuman Mati
Ilustrasi
Rabu, 12 April 2017 07:41 WIB
JAKARTA - Tiongkok masih menjadi negara yang paling banyak melakukan eksekusi atau hukuman mati di dunia sepanjang tahun lalu. Kondisi itu bertolak belakang dengan tren di berbagai negara yang umumnya menunjukkan penurunan. Di sisi lain, hukuman mati itu tidak proporsional lantaran menyasar warga miskin.Berdasarkan laporan lembaga independen Amnesty International, Selasa (11/4/2017) kemarin, bahkan ketika eksekusi menurun lebih dari sepertiga secara global, tingkat hukuman mati Tiongkok ialah 'sangat tinggi' meskipun praktik hukuman mati di sana tidak terlacak sepenuhnya.

Di sisi lain, di saat Presiden Xi Jinping melancarkan kampanye keras terhadap praktik korupsi yang berhasil menyeret banyak pejabat tinggi ke penjara, hukuman mati untuk mereka sering diringankan.

"Sementara rakyat biasa yang tertangkap dan diadili belum begitu beruntung," kata Amnesty. "Kalangan petani lebih sering dihukum mati daripada kelompok lain di Tiongkok," ujar lembaga itu dalam sebuah laporan yang berusaha menyingkap tabir mengenai cara kerja sistem. Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa menganggap angka eksekusi sebagai rahasia negara, yang berarti ratusan hukuman mati dihilangkan dari database pengadilan.

"Tiongkok sungguh satu-satunya negara yang sangat rapat menjaga kerahasiaan soal eksekusi," ujar Direktur AI Asia Timur Nicholas Bequelin dalam konferensi pers di Hong Kong. "Mungkin penyebabnya lantara angka hukuman mati (di sana) sangat tinggi," tambahnya.

Amnesty melaporkan meskipun laporan media lokal memperkirakan setidaknya 931 orang dieksekusi antara 2014 dan 2016, hanya 85 dari mereka ditemukan dalam database daring.

Perkiraan dari sejumlah kelompok hak asasi lain juga menempatkan jumlah eksekusi tahunan di Tiongkok mencapai ribuan. Dari penangkapan hingga eksekusi, proses ini diwarnai kerahasiaan dan kecepatan. Laporan 2016 oleh Dui Hua Foundation yang berbasis di AS mengatakan rata-rata hukuman mati tahanan Tiongkok hanya menunggu dua bulan sebelum dieksekusi.

Dui Hua memperkirakan ada sekitar 2.000 eksekusi di Tiongkok pada 2016, turun dari 2.400 pada 2013 dan sekitar 4.000 pada 201-menyusul reformasi hukum yang meningkatkan pengawasan. Sementara itu, kekhawatiran atas vonis yang salah telah tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.

Mantan Menteri Kehakiman Tiongkok, Zhou Qiang, pada 2015 telah meminta maaf atas kesalahan-kesalahan putusan yang tidak adil. "Kami merasakan sangat menyesal karena mengeluarkan vonis yang salah," tandasnya. Kedati Zhou telah menyerukan perbaikan, para pakar menilai reformasi yang diserukan tidak benar-benar dijalankan.


Ads
Editor:TAM
Sumber:mediaindonesia.com
Kategori:Ragam
wwwwww