Membangun Kejayaan Hijab Asia

Membangun Kejayaan Hijab Asia
Ilustrasi
Sabtu, 08 April 2017 10:22 WIB
Gemerlap panggung hijab. Hanya itu penenang hatiku. Maklum, siang itu pikiranku lagi kalut. Aku baru saja ketinggalan pesawat. Tepatnya ditinggal. Burung besiku terbang tanpa pamitan.Jadilah aku terdampar di Soekarno Hatta. Tapi beruntung, harapanku belum kandas. Jadwal terbang Jumat tengah hari, yang telah lewat itu, diganti oleh maskapai. Aku diikutkan flight malam hari. Sepuluh jam di bandara. Tapi tak apa, demi panggung itu. Hijab Asia.

Tibalah saat itu. Jadwal penerbangan malam yang dijanjikan. Tanpa ba bi bu, aku masuk pesawat. Dengan segala penat, kuringkukkan tubuh di kursi. Pesawat itu segera terbang. Melesat, menembus langit hitam.

Tapi belum sempat lelap, roda pesawat sudah kembali menggilas aspal. Goncangan saat landing membangunkanku. Dua jam begitu singkat. Dari bandara tujuan itu, aku bergegas ke penginapan. Malam benar-benar sudah tua. 

Ads
Tubuhku sudah di batas ambang kelelahan. Mata tinggal lima Watt. Sampai kamar hotel, aku langsung menghempaskan badan ke atas dipan. Lelap, meski hanya sekejap. Belum hilang rasa pegal di punggung, matahari sudah menyembul di timur.

Saat kesadaranku pulih, bayangan panggung dan koleksi teranyar desainer kelas dunia kembali mengganggu. Itulah yang membuatku segar Sabtu pagi itu. Aku segera bersiap, sarapan, dan mencari alamat yang tertera dalam undangan di genggamanku.

Bermodal GPS di ponsel jadul, kudapati lokasi itu. Hanya 600 meter dari tempatku berdiri. Tak pikir lama, aku memutuskan jalan kaki. Peta digital itu ternyata tidak bohong. Baru belokan ke dua, aku sudah sampai persis di alamat tujuan. Itulah, Kuala Lumpur Convention Center.

Seperti dugaanku. Di sana pasti sudah banyak orang. Kebanyakan masih muda dan berkerudung. Mereka berkerumun di depan pintu lebar. Hendak masuk ke hall. Selembar karton tebal dalam genggaman. Di situlah tertera nama desainer hijab dunia.

Wajah-wajah sumringah. Mata berbinar. Mereka terus berbisik. Tak sabar melihat karya desainer idola di atas catwalk Asia Islamic Fashion Week (AIFW) 2017 itu. Pameran yang ingin mereka lihat ini skalanya memang tak kecil. Tingkat Asia.

Di tengah keriuhan itu aku bertemu Datin Tata. Ketua AIFW 2017. Dia berkisah event ini baru pertama digelar di Malaysia. Diharap jadi etalase hijab ke pasar dunia. “ Untuk menunjukkan keindahan Islam,” kata Datin.

Ajang seperti ini, kata dia, sangat penting. Sebab, kue bisnis modest wear punya potensi besar. “ Pasar industri fashion Muslim nomor tiga, setelah China. Sangat besar,” ujar dia.

Datin Tata tak omong kosong. Coba tengok kembali data State of the Global Islamic Economy Report 2016-2017. Menurut laporan Thomson Reuters itu, Muslim di Bumi ini menghabiskan US$243 miliar untuk berbelanja pakaian selama 2015.

Jumlah itu memang masih kalah dengan pengeluaran masyarakat China yang menghabiskan US$344 miliar dan AS US406 miliar. Namun uang yang dikeluarkan masyarakat Muslim itu setara 11% belanja penduduk dunia di sektor pakaian.

Angka itu diprediksi terus membengkak. Pada 2021, jumlah pengeluaran penduduk Muslim di sektor modest fashion diperkirakan mencapai US$368 miliar. Atau tumbuh sekitar 7,2%.

Dan jangan tercengang dulu, laporan Thomson Reuters juga menyebut pendapatan dari belanja khusus busana Muslimah pada tahun 2015 mencapai US$44 miliar.

Dan event yang digagas Datin itu sengaja mengambil level Asia. Bukan dunia. Tapi justru di situlah keunggulannya. Bisnis hijab harus dimulai dari benua ini. Bukan belahan Bumi lain. Sebab, pasar Muslimah terbesar ada di sini. “ Asia is the best platform,” tambah Datin.

Mari kita buka lagi laporan Thomson Reuters tadi. Kita buktikan ucapan Datin. Ternyata, empat dari lima negara yang penduduknya menghabiskan belanja paling banyak untuk busana Muslim berada di Asia. Turki (26,7%), Uni Emirat Arab (20,6%), Nigeria (16,13%), Arab Saudi (15,32%), dan Indonesia (13,28%).

Jangan tutup dulu laporan itu. Mari kita lihat, siapa saja yang memasok kebutuhan terbesar modest wear ini. Ternyata, selama ini eksporter terbesar industri fashion ke negara-negara Muslim dipegang oleh China, dengan nilai US$21.1926.

Setelah itu baru disusul oleh India US$5.589, Turki US$2.643, Bangladesh US$1.345, Italia US$1.137, dan Indonesia US$492.

Dan siang itu, antusiasme pengunjung terlihat di KLCC. Atmosfirnya memang masih kalah dengan di Indonesia. Sedikit lebih lengang. Sabtu pekan lalu itu, tak terlihat antrean mengular. Para hijaber yang rata-rata berlogat Melayu dengan lancar masuk ke ball room besar.

Beda dengan Indonesia. Bagai gula dirubung semut. Saban ada event hijab, di sana pula hijaber selalu meriung. Aku bayangkan, jika aganda tingkat Asia ini diadakan di Tanah Air, pasti akan diserbu. Lebih padat hijaber yang datang. Ibaratnya, saling sikut pun mereka rela.

Datin Tata pun mengakui, bisnis hijab di Malaysia masih belum begitu bagus. Negeri jiran itu sebenarnya memiliki data ratusan desainer yang bisa diandalkan di industri modest wear. Tapi perkembangan Malaysia tak sepesat Indonesia.

“ Sebab Indonesia memiliki Anniesa Hasibuan, Malaysia belum,” kata dia, memuji prestasi desainer Indonesia pencetak sejarah dunia sebagai perancang pertama yang menampilkan hijab di ajang bergengsi, New York Fashion Week.

Saat ini, kata dia, Malaysia masih tetap pada desain-desain tudung sederhananya. “ Dan Indonesia sangat pandai mengeksplore ide, dan Malaysia kini tengah memulai. Pasar masih terus berkembang,” kata Datin Tata.

Dan dalam ajang AIFW ini mereka menargetkan 10.000 pengunjung. Para pengunjung yang daftar secara online tercatat 4.000 orang. Namun belum terdata berapa yang mendaftar on the spot.

“ Saya tak tahu, tapi untuk fashion show sangat mengagumkan. Semua orang datang dan mendukung para desainer. Tapi pameran masih rendah,” ujar wanita berkerudung ini.

Benar kata Datin Tata. Para pengunjung memang rata-rata hanya masuk ke fashion hall. Tempat para model memeragakan karya perancang busana. Tak banyak yang berbelok ke lokasi stan-stan pameran yang menjajakan produk busana Muslim.

Aku sempat berjalan-jalan ke lokasi stan pameran. Suasananya memang sepi. Padahal, ada sekitar 70 stan dari berbagai negara di sana. Mereka datang dari Dubai, Inggris, Indonesia, hinga Amerika. Tapi sayang, mereka hampir tak tersentuh tangan para pecinta fashion negeri jiran. Dompet pengunjung jarang terbuka untuk bertransaksi.

Dengarlah pengakuan Olla yang sempat ngobrol denganku. Public relation label Darabirra itu juga heran dengan sepinya pengunjung ke stan pameran. Siang itu Olla berkelakar bahwa acara ini sangat bagus karena levelnya internasional. Tapi sayang, pengunjung tak banyak.

Hingga Sabtu siang itu Darabirra bahkan belum menjual satu potong baju pun. Padahal agenda tingkat internasional ini dimulai sejak Kamis. “ Entah apa yang salah, kayaknya sih kurang publikasi," kata Olla.

***
Dan aku kembali ke hall besar itu. Pesta dimulai. Sudah tak ada hijaber yang berjubel di depan pintu. Semua sudah masuk ke ruang gelap. Ke sanalah aku menyusul. Ditelan keremangan, dengan kerlip lampu di langit-langit. Serasa malam bertabur bintang.

Di dalam, ratusan kursi sudah berjajar rapi. Hampir semua berpenghuni. Ada yang disediakan untuk VIP, undangan biasa, hingga media. Aku duduk di golongan terakhir. Media. Aku memang jurnalis. Datang ke sini untuk meliput pameran hijab Asia ini.

Keheningan mendadak pecah. Suara MC terdengar lantang dari pengeras. Pria yang berdiri di atas panggung itu mengucapkan selamat datang kepada tamu yang datang pada gelaran fashion show 'The Best of Asia'.

Lampu yang sejak aku masuk diredupkan, berangsunr terang. Terlihatlah lantai run way berkelir putih, sepuluh meter menjorok ke depan. Di atas lintasan itulah model-model busana Muslim dari membawakan karya terbaik desainer dari berbagai negara.

Musik bernuansa Arab mengawali gelaran desainer pertama. Nama Eja Shahril terpampang pada layar besar di panggung megah itu. Para fotografer menghujani para model dengan kerlap lampu blitz. Mengabadikan momen itu. Tak mau kalah, para pengunjung juga memotret dengan kamera ponsel mereka.

Aura ajang ini boleh saja masih kalah dengan gelaran di Indonesia. Tapi bagiku, tetap menyenangkan. Aku bisa berjumpa dengan ikon-ikon hijab dunia di sini. Bila biasanya hanya menulis melalui riset internet, sekarang aku bisa bertatap muka dan mewawancarai mereka.

Dan aku menikmati sajian busana di atas run way itu hingga tengah hari......

Editor:Yovi Ansari
Sumber:dream.co.id
Kategori:Ragam
wwwwww