Jurnalisme Warga

Buka Puasa di Tembok Besar Cina

Buka Puasa di Tembok Besar Cina
Mulia Mardi berada di Tembok Besar Cina
Rabu, 21 Juni 2017 09:38 WIB

Di penghujung Ramadan ini saya masih berada di Cina sampai akhir Ramadan nanti. Artinya saya berada di Negara Tirai Bambu satu bulan penuh selama Ramadan. Ramadan akan segara meninggalkan kita beberapa hari lagi, namun kodrat seorang pelajar yang jauh dari keluarga pasti rindu dengan suasana Ramadan di kampung halaman. 

Bahkan suasana Ramadan pun tidak terasa sama sekali di negeri dominannya non-muslim. Suasana Ramadan juga sangat berbeda dengan Indonesia sendiri

Kadang saya juga berbuka dengan beberapa teman muslim berbagai negara lainnya meskipun hanya menikamti bukaan dengan seadanya di sini, namun keluarga tetap yang dirindukan.

Siapa yang tidak merindukan keluarga di bulan suci Ramadan. Semua muslim di dunia sangat merindukan buka puasa bersama dengan keluarga apalagi seorang perantau. Duduk melingkar menunggu suara azan tiba, itu yang sangat dirindukan oleh siapapun.

Untuk menghilangkan kerinduan ke kampung halaman di bulan Ramadan. Saya ingin melalakukan hal yang baru yakni buka puasa di Tembok Besar Cina. Mengunjungi Tembok Cina merupakan suatu pengalaman yan tak terlupakan, apalagi melakukan yang menarik namun sederhana di dulan suci Ramadan.

Menariknya ketika para wisatawan hanya menikmati keindahan keajaiban dunia objek wisata bersejarah yang dibangun sejak tahun 722 sebelum masehi. Menikmati objek wisata yang terkenal di dunia di antara para wisawatan yang non-muslim sambil menunggu suara azan dari telepon seluler (ponsel).

Rasanya mendapat sensasi yang berbeda dan luar biasa, mungkin hal ini yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain ketika ketika mengalaminya sendiri.

Sungguh besar nikmat dan keajaiban Allah ketika melihat kuasa-Nya masih berdiri kokoh dan utuh. Memandang keajaiban Allah sambil berbuka puasa, hatiku sedikit bersedih dan menatap kekosongan ke arah benteng yang sangat panjang.

“Ya Allah, nikmat Engkau mana lagi yang aku dustakan” hatiku berkata pilu tidak ada kata pilihan lain di saat itu. Terdiam sejenak setelah menuguk air putih, menerawang pandangan ke depan yang luas. Lagi hati kecilku berkata “sangat beruntung Ramadan tahun bisa menikmati dan menginjak kaki di Tembok Besar Cina”.

Meskipun hanya meneguk segelas air putih sudah cukup rasa syukur di hari itu, seharian melewati teriknya matahari rata-rata di atas 30 derejat celcius dan berpuasa kurang lebih 18 jam terbayar sudah dengan keagungan Allah yang diberikan kepada kita.

Hanya dengan segelas air putih semua terbayar sudah ketika melihat keindahan alam Tembok Cina. Nikmat Allah sangat besar ketika keduanya saya padukan dalam satu rasa, banyak cara menikmati keagungan Allah di bulan suci Ramadan.


Penulis 

Mulia Mardi, alumni Misbahul Ulum Lhokseumawe dan pernah aktif di Teater Rongsokan dan Rumoh Budaya Jakarta.

Ads
Editor:Kamal Usandi
Kategori:Opini
wwwwww