Agar Jayakarta Kembali jadi Fathan Mubina

Agar Jayakarta Kembali jadi Fathan Mubina
Ilustrasi Sunda Kelapa Jakarta
Selasa, 18 April 2017 09:16 WIB
Penulis: Tuanku Warul Waliddin bin Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah

Tuanku Warul Waliddin

Bagi Rakyat Aceh, Jakarta bukanlah sekadar ibu kota NKRI. Jakarta adalah sebuah tanah yang sejak dari dahulu kami berusaha bebaskan (futhul) dari tangan-tangan kafir yang berusaha mengotorinya. Adalah Fatahillah atau Falatehan, begitu bangsa Portugis memanggilnya. Di bawah pimpinan Francisco De Sa, pasukan ini harus menelan kekalahan pada 22 Juni 1527 dalam pertempuran yang berlangsung di Pelabuhan Kelapa.

Tuanku Warul Waliddin bin Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah [Ist] - See more at: https://www.goaceh.co/berita/baca/2017/04/01/keturunan-raja-aceh-jelaskan-posisi-kerajaan-barus/#sthash.gzmI74pz.dpuf
Sesuatu yang sungguh manis untuk dikenang oleh masyarakat Jakarta dan bangsa Indonesia. Betapa tidak, karena kekalahan telak pasukan Henrique Leme atas pasukan gabungan Demak dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah, menantu sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), menjadi titik tolak kebangkitan masyarakatnya.

Pada hari tersebut pula Fatahillah menggantikan nama Pelabuhan Kalapa menjadi Fathan Mubina (kemenangan yang nyata) yang dalam bahasa lokalnya adalah Jayakarta (kota kemenangan) guna mengabadikan peristiwa yang bersejarah tersebut. 

Sebagai Putra Pasee (Samudrai Pasai, Aceh) tanggung jawab moril seorang Fatahillah yang notabene adalah seorang panglima perang yang datang dari Pasee ke tanah Jawa, sungguh patut menjadi alasan kuat, bahwa tanah Jayakarta untuk tidak dipimpin oleh kaum tersbeut pada era sekarang ini. 

Ads
Perjuangan seorang panglima perang dari Pasee ini seakan runtuh tiada berharga apabila Jayakarta kembali jatuh ketangan kelompok itu.

Selain pascadiexterniringnya Sultan Aceh terakhir berdaulat Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah ke Ambon, dan melakukan sebuah tindakan yang merugikan pihak Belanda di Ambon dengan menghimpun kekuatan dan semangat perjuangan di kawasan Ambon Manise, Sultan akhirnya dibuang lagi ke Batavia agar mudah dipantau pergerakannya.

Di Batavia, Sultan tidak merasa berada di tanah pengasingan, beliau terus melakukan pergerakan dan surat menyurat lintas bangsa melalui konjen di Singapura. Hingga beliau menghembuskan napas terakhirnya di sana akhir hayatnya di Batavia alias Jayakarta.

Sebagai mana cita-cita kakeknya, Sultan Alaidin Ibrahim Mansursyah (1857-1870) yang ingin mengusir kolonial Belanda dari Jayakarta, namun karena terlambatnya proses upgrade persenjataan dari Turki Ustmani yang sedang alot menghadapi perang Crimea melawan kekaisaran Rusia, menyebabkan gagalnya misi mengusir Belanda dari Jayakarta.

Oleh karena itu peran serta dan dukungan rakyat Aceh di Jakarta serta doa dari seluruh rakyat Aceh ban sigom donya adalah senjata kita hari ini menghadapi ghazwulfikri yang sedang terjadi hari ini. Dihembuskannya slogan politik dan agama harus dipisahkan adalah sebuah statemen yang sangat keliru dari beberapa pihak.

Mari kita kembali ke jati diri rakyat yang 80 persen lebih muslim di tanah Jayakarta ditambah doa dari seluruh muslimin dimanapun berada, terutama di Aceh untuk kembali memenangkan Jayakarta sebagai kota kemenangan kaum muslimin.

Jangan sampai Jayakarta menjadi Cordoba. Namun doa kita Jayakarta setelah 19 April esok kembali menjadi Fathan Mubina (kemenangan yang nyata).

Tuanku Warul Waliddin bin Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah adalah keturunan Raja Aceh.

Kategori:Opini
wwwwww